Oleh: Aris Kusmanto

BELAJAR sains merupakan proses konstruktif yang menghendaki partisipasi aktif siswa baik secara fisik maupun mental. Artinya, siswa tidak hanya aktif berpikir (minds on), tapi juga melakukan aktivitas fisik (hands on).
Sebagai bagian dari sains, fisika bertujuan memelajari dan memahami berbagai gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya. Belajar fisika mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan alam sekitar, serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta sikap percaya diri.
Gerak melingkar beraturan merupakan materi fisika pada kelas X semester I dengan kompetensi dasar menganalisis besaran fisika pada gerak melingkar dengan laju konstan. Penerapan gerak melingkar dalam kehidupan sehari-hari sangat luas. Dalam bidang kedokteran, misalnya, pembuatan mesin sentrifugal untuk memisahkan sel darah merah dan sel darah putih. Sedangkan pada bidang mekanik, misalnya, gerak roda, kipas angin, compact disk, komedi putar dan sebagainya.
Namun, di kelas penulis menemui kenyataan bahwa kompetensi gerak melingkar ini belum dikuasai siswa secara optimal. Pasalnya, siswa mengalami kesulitan memahami konsep besaran-besaran gerak melingkar. Mereka juga belum mampu mengintegrasikan atau menghubungkan antara materi yang mereka pelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari. Di samping itu, aktivitas siswa dalam pembelajaran masih kurang, serta penguasaan materi ajar belum mencapai ketuntasan.
Learning by Doing
Menyikapi keadaan ini, penulis berusaha menerapkan pembelajaran sesuai dengan tujuan belajar fisika, yakni siswa harus dapat terlibat aktif baik pikiran maupun aktivitas fisiknya. Penulis pun memilih pendekatan Learning by Doing dengan multimedia interaktif.
Learning by Doing merupakan salah satu pendekatan pembelajaran fisika yang menekankan keterlibatan siswa secara aktif. Siswa belajar sambil bekerja dan bekerja sambil belajar . Siswa memeroleh banyak kesempatan untuk aktif, inovatif dan kreatif sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Keterlibatan siswa dalam Learning by Doing tidak hanya sebatas fisik semata. Tapi lebih dari itu. Terutama keterlibatan mental emosional dalam pencapaian dan pemerolehan pengetahuan, penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Dalam pembelajaran, guru bertugas sebagai penunjuk jalan, pengamat tingkah laku untuk menentukan masalah yang akan dijadikan pusat minat anak. Siswa bersama-sama menyelidiki dan mengamati sendiri, berpikir dan menarik simpulan sendiri, membangun dan menghiasi sendiri sesuai dengan insting yang ada padanya.
Melalui pendekatan ini ternyata siswa lebih antusias belajar materi gerak melingkar beraturan. Mereka menjadi aktif selama kegiatan praktik dan mau melibatkan diri dalam diskusi saat kegiatan presentasi. Siswa mengaku senang ketika berinteraksi dengan media.
Namun sebagaimana kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, pendekatan learning by doing dengan multimedia interaktif tidak akan berdaya guna manakala guru enggan mencobanya terlebih dahulu.
Guru mesti akrab dengan teknologi, mampu mengecek persiapan perangkat pendukung multimedia seperti speaker dan LCD agar dapat bekerja dengan baik. Dan yang paling penting, guru wajib menguasai materi pembelajaran. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin siswa akan mengatakan bahwa belajar fisika itu ternyata mengasyikkan dan sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.