Warga Sampangan Sulap Sampah Jadi Kompos

1242

SELAIN daur ulang sampah menjadi produk kerajinan, ada juga warga Kota Semarang yang mengolah sampah organik menjadi kompos. Salah satunya dilakukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ngudi Kamulyan di wilayah RT 3 RW II, Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur.
Pengolahan sampah menjadi kompos yang dikelola warga ini bahkan sudah menjadi percontohan bagi warga kelurahan lain di Kota Semarang, termasuk warga luar kota. Mereka datang untuk belajar bagaimana membuat komposting. ”Banyak juga mahasiswa yang datang ke sini untuk penelitian pembuatan skripsi maupun tesis tentang kompos,” kata Ketua KSM Ngudi Kamulyan Suharto Setiyo kepada Radar Semarang.
Suharto menceritakan, ide membuat pengolahan kompos itu bermula dari banyaknya sampah daun dan limbah rumah tangga yang berserakan. Kemudian, warga punya pemikiran untuk menyulap sampah tersebut menjadi pupuk.
”Waktu itu banyak warga yang menentang. Banyak yang khawatir akan menimbulkan polusi udara, yakni bau yang tak sedap. Tapi, setelah berjalan, ternyata warga yang semula menentang sekarang malah mendukung keberadaan KSM ini,” ujarnya.
Saat ini, KSM Ngudi Kamulyan memiliki 3 karyawan. Hasil produksi kompos, 30 persen untuk kas KSM, sedangkan 70 persen untuk karyawan. Untuk sampah yang dibuat komposting berasal dari limbah rumah warga sekitar, termasuk daun-daun kering di lingkungan RW II, III, IV dan V. ”Setiap hari kami bisa mendapat sampah organik 75 sampai 100 kg. Kami dapatnya ya hanya dari wilayah 4 RW tersebut,” katanya.
Selanjutnya, sampah organik diolah menjadi kompos. Proses pengolahan sampah menjadi pupuk kompos ini membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari. Sebelum dibuat kompos, sampah dari rumah tangga akan disortir lebih dulu. Selanjutnya dilakukan pencacahan dengan mesin pencacah. Setelah itu, dimasukkan ke bak khusus. ”Untuk menghilangkan bau sampah dan mempercepat proses pembusukan, ditambah bahan kimia efective microorganisme 4 atau EM4,” ungkapnya.
Setiap kali produksi, hasilnya 2 ribu- 4 ribu kg kompos. Selanjutnya, kompos dikemas dengan ukuran 2,5 kg yang dijual seharga Rp 3 ribu. ”Kami sudah memiliki pelanggan kompos mulai dari instansi pemerintah sampai perkantoran swasta dan perorangan,” katanya.
Hasil dari penjualan kompos ini, hampir setiap 6 bulan sekali, pengelola KSM Ngudi Kamulyan mengadakan rekreasi. ”Yang terakhir, kami rekreasi ke objek Wisata Bahari Lamongan (WBL),” ujarnya bangga.
Suharto mengaku, adanya pembuatan kompos di wilayahnya bisa mengurangi volume sampah yang diangkut ke TPA. Sehingga jika di setiap kampung atau minimal di setiap kelurahan terdapat tempat pembuatan kompos, tentunya bisa menekan jumlah sampah yang dibuang ke TPA Jatibarang. ”Tetapi saat ini memang hanya kelurahan tertentu yang memiliki tempat pembuatan komposting. Untuk itu, perlu adanya penyadaran dari masyarakat,” katanya.
Lurah Sampangan, Bambang Sri Wibowo, mengatakan, dengan adanya KSM Ngudi Kamulyan beberapa kendala pengolahan sampah organik di sebagian wilayahnya bisa terpecahkan. ”Apa yang dilakukan warga RT 3 RW II ini bisa menjadi contoh warga lainnya. Karena jika diolah dengan benar, ternyata sampah bisa mendatangkan pendapatan,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, program komposting yang dilakukan warga bisa membantu pemkot dalam penanganan sampah. ”Paling tidak, bisa mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Jatibarang yang sudah hampir overload,” katanya. (hid/aro/ce1)