SEMARANG – Hasil Rakernas PP Pelti di Jakarta, 24 Mei lalu memutuskan bahwa cabang tenis lapangan di PON XIX tahun 2016 di Jabar, masih ada pembatasan usia yaitu maksimal 21 tahun. Baru pada PON XX di Papua 2020, cabang ini sudah menghapus pembatasan umur, sehingga kelak para petenis senior bisa turut ambil bagian.
Menurut Kabid Litbang Pengprov Pelti Jateng Tri Nurharsono, dengan pembatasan usia tersebut memang sejumlah petenis potensial Jateng seperti Wisnu Adi Nugroho dan Cyntia Melita tak bisa turun lagi di PON 2016. Itu artinya, para petenis Jateng yang saat ini berusia pada kisaran 18 tahun yang bersaing di PON Jabar.
”Jika merujuk hasil Rakernas, memang hanya ada satu petenis putri eks PON yang masih bisa bermain yaitu Idhun Safa’ati. Kami kira masih bisa diandalkan di PON nanti,” katanya di Semarang, Jumat (6/6). Dijelaskan Tri, meskipun tenis masih dibatasi maksimal 21 tahun, tapi pihaknya masih optimistis cabang ini mampu memberikan kontribusi medali emas di PON nanti. Pasalnya Jateng hingga kini memiliki sejumlah petenis junior yang memiliki pengalaman seperti Esmid M Ridho dan M Iqbal Ansori di bagian putra, serta Idhun dan Arrum Damarsari di bagian putri.
Jateng sendiri sudah memproyeksikan mereka untuk tampil di PON. Mengingat usianya yang masih muda, sebelum diterjunkan ke PON, mereka juga disiapkan menghadapi PON Remaja di Surabaya, Desember mendatang. Berdasarkan hasil Rakernas, cabang tenis memilih usia maksimal 18 tahun, berbeda dengan keputusan KONI Pusat bahwa peserta PON Remaja adalah atlet pada kisaran usia 12-16 tahun.
Terkait dengan persiapan babak Pra-PON tahun 2015 nanti, Pengprov Pelti sendiri menyiapkan seleksi tahap kedua pada Juni ini. Seleksi tersebut adalah lanjutan program tahun lalu membentuk tim tenis Jateng yang kuat.
”Kami merencanakan sebelum bulan Ramadan ini. Harapannya, siapapun yang terpilih nanti adalah petenis terbaik yang siap bersaing untuk kepentingan PON 2016,” kata dosen FIK Unnes itu.(bas/smu)