SEMARANG – Permintaan pemasangan jaringan listrik baru di Jateng dan DIJ cukup tinggi, mencapai 300 ribu pelanggan baru. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir separo target pemasangan jaringan listrik baru di Jateng dan DIJ pada tahun ini, yakni 550 ribu pelanggan baru.
”Permintaan cukup banyak. Hingga saat ini, penambahan pelanggan baru sudah lebih dari 300 ribu, atau 50 persen lebih dari target tahun ini yakni 550 ribu pelanggan baru,” ujar Plh GM PT PLN Persero Distribusi Jateng dan DIJ Andreas Heru, kemarin.
Dari 300 ribu permintaan jaringan listrik baru tersebut, belum semua bisa dipenuhi PLN Distribusi Jateng dan DIJ. Sebanyak 40 ribu calon pelanggan rumah tangga dan 2.000 perusahaan di wilayah Jateng dan DIJ, belum terlayani pemasangan jaringan listrik baru dan masih masuk daftar tunggu. Belum bisa dipasangnya jaringan baru tersebut karena PLN kehabisan anggaran untuk pengadaan material.
Disebutkan Andreas, tahun ini PLN dianggarkan Rp 350 miliar untuk pemasangan jaringan baru, tetapi baru berjalan beberapa bulan dana sudah habis. Bahkan defisit, yaitu pengeluaran telah mencapai Rp 550 miliar.
Dia mengaku, dalam minggu ini pihaknya akan mendapatkan kucuran dana tambahan untuk dialokasikan khusus untuk pemasangan jaringan baru. Hanya saja ia belum mengetahui secara pasti jumlah dana tambahan tersebut. ”Informasinya dalam minggu ini akan ada tambahan dana, tapi kepastiannya kapan kita juga belum tahu,” tuturnya.
Humas PLN Distribusi Jateng dan DIJ Supriyono menambahkan, untuk menekan pengeluaran pada pemasangan jaringan baru, pihak PLN melakukan beberapa langkah. Di antaranya adalah selektif dalam melayani pelanggan ”Yang dimaksud selektif yaitu pelanggan yang jaraknya cukup jauh akan di-pending dahulu dan diutamakan yang memiliki jarak dekat. Kita punya standar jarak yakni 20 meter dari tiang listrik, jika lebih misalnya sampai 500 meter, ini kan investasinya terlalu besar maka akan kita pending dulu,” jelasnya.
Selektivitas dalam memilih pelanggan baru ini, lanjut Supriyono, nantinya tidak hanya berlaku untuk rumah tangga namun juga untuk perusahaan baik kecil maupun skala besar. ”Untuk perusahaan justru kita lebih selektif, karena untuk pemasangan jaringan baru perusahaan butuh investasi yang lumayan besar,” tandasnya. (dna/smu/ce1)