SEMARANG – KONI Jawa Tengah dalam posisi dilematis ketika menghadapi mutasi atlet Jateng ke provinsi lain. KONI tak memiliki daya tawar untuk menahan mereka.
”Pada satu sisi kami ingin mempertahankan mereka, agar tetap bertahan dan memiliki loyalitas kepada Jateng. Tapi sisi lain, apa yang bisa kami berikan mereka? Dana pelatda saja, sejak bulan Januari hingga Mei belum turun. Kami menghadapi dilema ketika harus berjuang untuk mempertahankan mereka. Ibarat kata, mau nggondheli, tapi tanpa amunisi,” kata Kabid Umum dan Kesejahteraan Pelaku Olahraga KONI Jateng Iik Suryati Azizah.
Iik sendiri pada Selasa (3/6) lalu menghadiri sidang mediasi untuk karateka Imam Tauhid Ragananda di Badan Arbritase Olahraga Republik Indonesia (BAORI). Imam yang merebut perunggu di PON 2012 lalu, sudah melayangkan surat ke KONI untuk pengajuan pindah ke Jabar. Namun, karena pihak KONI dan Pengprov FORKI masih ngotot mempertahankannya, Imam menyerahkan sepenuhnya kepada BAORI.
Dari sidang mediasi pertama itu, kata Iik, baru menyangkut tahapan alasan kepindahan Imam Tauhid. Berdasarkan surat yang diajukan Imam ke KONI, alasan karateka asal Kota Salatiga mutasi ke Jabar lantaran sudah bekerja PT Citra Menara Mas Bandung dan kuliah di Unpas Bandung Fakultas Seni Jurusan Seni Musik. ”Tahapan awal baru membicarakan soal alasan pindah. Pihak Jabar yang diwakili para pengacara itu menyebut bahwa kepindahan Imam murni kemauan sendiri. Pada Selasa pekan depan, masih mediasi dengan menghadirkan atlet dan pengprov,” kata ketua umum FPTI (panjat tebing) Jateng itu.
Seperti diketahui, ada 23 atlet Jateng yang mengajukan mutasi ke provinsi lain. Diantara mereka, sudah ada dua atlet yang sudah resmi pindah yaitu Dian Kartika (lempar lembing) dan Agus Prayogo (lari 5.000 dan 10.000 m) setelah sidang BAORI yang panjang.
Iik mengakui, kepindahan para atlet Jateng ke provinsi lain sangat merugikan Jateng, karena bisa mengurangi perolehan medali emas di PON 2016. Dia mencontohkan Agus yang bisa menyumbangkan medali emas seperti PON 2012 lalu.(bas/smu)