SALATIGA—Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Salatiga mengalami kenaikan signifikan menjelang bulan puasa. Kenaikan dari semula harga Rp 23 ribu per kilogram saat ini harga mencapai Rp 26 ribu – Rp 27 ribu.
Kenaikan harga daging ayam ini terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga menurutnya dipicu dari berkurangnya pasokan dari distributor. “Pasokan menurun padahal permintaan konsumen tetap dan cenderung naik, maka otomatis harga naik,” kata Narimah, salah satu pedagang ayam di Pasaraya I kepada wartawan.
Pedagang daging ayam lainnya juga mengaku mengalami penurunan omzet. Tatik Nurdin, 45, misalnya. Ia mengaku sebelum kenaikan setiap hari biasanya mampu menjual hingga 200 kilogram daging ayam. Namun dengan minimnya pasokan serta naiknya harga, ia hanya bisa menjual separuhnya karena sepi pembeli. 
Kenaikan harga daging ayam itu dikeluhkan para pembeli. Seperti salah satunya Sudarmi, 42. Ia mengeluh lantaran dirinya tetap harus membeli daging ayam dengan jumlah yang sama setiap harinya meskipun harga naik. Daging ayamnya digunakan untuk usaha warung soto miliknya. Dia memilih tidak menaikan harga soto dagangannya meski dengan konsekuensi keuntungannya berkurang.
Hal sama diungkapkan Tukini, 40, pembeli daging ayam lainnya menuturkan, dirinya menyadari kenaikan yang rutin terjadi menjelang bulan puasa. Kendati demikian, ia meminta kenaikan tidak terlalu tinggi dan harus masih bisa terjangkau masyarakat. “Asal kenaikkan jangan terlalu tinggi tentu masih bisa terbeli,” jelas Tukini.
Sementara kebutuhan lainnya juga mulai merangkak naik utamanya sejumlah sayuran. Harga per kg bawang merah di Pasaraya I saat ini mencapai Rp 20 ribu dari semula Rp 12 ribu. Sementara harga bawang putih dari Rp 10 ribu per kg saat ini dijual dengan harga Rp 14 ribu. Sedangkan harga tomat dari semula Rp 3 ribu per kg kini mencapai Rp 9 ribu. 
Jumiyem, 45, salah satu pedagang sayuran mengatakan, naiknya harga sejumlah sayuran umumnya dipicu oleh faktor cuaca. “Curah hujan yang tinggi biasanya menyebabkan sejumlah sayuran mudah rusak. Akhirnya, pasokan terbatas dan harga mengalami kenaikan,” kata Jumiyem.(sas/aro)