SOLO-Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengaku akan mengajukan cuti tetapi tidak secara khusus untuk kepentingan kampanye pemilihan presiden (pilpres). Rudy berniat cuti demi mendampingi Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, yang akan datang ke Boyolali, sekitar akhir bulan ini.
Rencana cuti yang diajukan wali kota, di antara tanggal 21 sampai 27 Juni. Pada tanggal-tanggal itu, direncanakan ada kunjungan Megawati ke Boyolali guna meresmikan Patung Bung Karno dan Jalan Ir Soekarno di Kota Susu. “Mungkin saat Bu Mega ke Boyolali, saya baru mengajukan cuti,” kata Rudy saat ditemui wartawan di Benteng Vastenburg, Kamis (5/6).
Selain akan mendampingi ketua umum partainya, pengajuan cuti Rudy juga sebagai persiapan jika nantinya dia ditunjuk sebagai juru kampanye (jurkam) saat acara di Boyolali. Diakui pria yang juga Ketua DPC PDIP Solo itu, sampai saat ini dirinya belum mendapat kepastian soal penunjukkan jurkam. Namun demikian, ia tetap ancang-ancang dengan jalan mengajukan permohonan cuti. “Hari ini (kemarin) saya membuat surat pengajuan (cuti) dulu. Tapi, saya juga akan konsultasi dulu, nanti di sana (Boyolali), jadi jurkam atau tidak,” kata dia.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18/2013 tentang Tata Cara Pengunduran Diri Kepala Daerah dan Pegawai Negeri Menjadi Caleg dan Pelaksanaan Cuti Kampanye Pemilu, pengajuan cuti harus diajukan paling lambat 12 hari sebelum cuti dilakukan. Adapun, masa kampanye pilpres ditetapkan mulai tanggal 4 Juni hingga 5 Juli mendatang.
Untuk mengikuti kampanye di Solo, Rudy memastikan diri tak akan mengambil cuti. Alasannya, dari partainya memang tidak ada instruksi kampanye terbuka. Kampanye pilpres di PDIP, kata dia, dilaksanakan dengan jalan dialogis dan pertemuan-pertemuan tertutup. “Jadi, siang saya tetap kerja. Kalau malam kan boleh konsolidasi. Karena PDIP tidak ada kampanye terbuka,” ucapnya.
Rudy juga tidak masuk dalam tim pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di Solo. Dikatakannya, peran dia lebih sebagai pengarah partai. Salah satu tugas yang fokus dijalankan, kata dia, yakni menjawab dan memberi pengertian terkait kemunculan kampanye hitam atau black campaign yang menerpa pasangan Jokowi-JK.
“Kalau pengarah kan bisa ke mana-mana kalau malam hari. Saat ini yang kami lakukan adalah mempersempit regu penggerak pemilih (guraklih). Kalau dulu di tingkat RT, sekarang dipersempit ke tingkat keluarga,” paparnya. (ria/mas)