Bagaimana Tentang I’jaz Alquran?

4810

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb Bapak Kiai Ahmad Izzudin di Radar Semarang yang saya hormati dan dirahmati Allah SWT. Saya ingin bertanya tentang i’jaz Alquran, khususnya i’jaz ’adadi, seperti dalam Alquran dan Rahasia tentang Angka-Angka. Apakah hal tersebut dibenarkan atau justru bisa dikatakan ”memerkosa” Alquran itu sendiri? Demikian pertanyaan saya Bapak Kiai, mohon penjelasan dan jawaban Bapak Kiai, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Kamali, Purwodadi (081225571xx)

Jawaban:

Wa’alaikum salam Wr Wb Bapak Kamali di Purwodadi yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan Bapak. Ada syarat-syarat yang dikemukakan pakar-pakar agama, bagi apa yang dinamai mukjizat. Antara lain, bahwa ia sedemikian jelas sehingga membungkam yang ragu karena mereka tidak dapat membuat yang serupa. Itu sebabnya, mukjizat selalu berupa hal-hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang telah diklaim oleh masyarakat nabi pada masa itu.
Di dalam Alquran pengulangan kata-kata yang sama dalam jumlah yang sama dengan lawannya, seperti kata panas, sama jumlahnya dengan kata dingin, yakni 4 kali, setan sama dengan malaikat, yakni 88 kali, atau penyebutan kata hari sebanyak 365 kali dan bulan sebanyak 12 kali, serta masih banyak lainnya adalah hal-hal yang diakui kebenarannya, tetapi apakah yang demikian dinamakan mukjizat?
Menurut hemat saya, tidak! Hal itu disebabkan karena itu tidak memenuhi unsur-unsur kemukjizatan, antara lain ia tidak membungkam yang ragu. Ia boleh jadi hanya dinamai keistimewaan Alquran. Banyak di antara kita yang didorong oleh kepercayaan dan kekaguman kita terhadap Alquran kemudian menguraikan sekian halnya dan menamainya mukjizat. Padahal keadaannya tidak demikian. Bahkan, sebagian apa yang dinamai keistimewaan, setelah dibahas lebih dalam, ternyata tidak benar. Termasuk dalam hal ini, beberapa pendapat menyangkut apa yang dinamai i’jaz ’adadi, yakni kemukjizatan dari segi bilangan. Ini apalagi jika dikaitkan dengan ibadah mahdhoh.
Saya tidak cenderung mendukung upaya tersebut walaupun harus diakui pula bahwa ada bahasa-bahasa menyangkut angka-angka yang berkaitan dengan ayat-ayat Alquran yang cukup mengesankan. Ini dikemukakan oleh banyak ulama khususnya yang berkecimpung dalam dunia tasawuf. Akan tetapi, sekali lagi, itu tidak dapat dinamai mukjizat karena dia lebih banyak kesan pribadi sehingga ia sama sekali tidak membungkam yang ragu.
Kalau uraian tentang angka-angka itu tidak sesuai, tetapi tidak menemui pijakan dari Alquran, tentu saja penamaannya sebagai mukjizat Alquran atau keistimewaan Alquran tidak dapat dibenarkan, dan dengan demikian, ia adalah salah satu bentuk ”pemerkosa terhadap ayat-ayat Alquran”. Atau dalam istilah Alquran, membebani Alquran dengan sesuatu yang bukan bebannya. Demikian jawaban dan penjelasan singkat dari saya, semoga bermanfaat dan barakah. Amin. Wallahu ’alam bishshowab. (*/ton/ce1)