Sadu Mudranta, Sukses Berbinis Tanaman Hias Adenium

Sadu Mudranta merupakan sosok pria pekerja keras dan pantang menyerah dalam berbisnis. Berkat kegigihannya, pria 50 tahun ini sukses membudidayakan tanaman hias jenis adenium. Setidaknya 10 ribu tanaman hias memenuhi pekarangan rumahnya.

MIFTAHUL A’LA, Sambiroto

MEMASUKI pekarangan rumah Sadu Mudranta di Bumi Wanamukti Blok H3 No 31, Sambiroto, Semarang mata ini pun langsung dimanjakan dengan sejumlah tanaman hias. Suasana alamiah tampak begitu kuat. Suasananya terasa sejuk. Saat ini, Ketua kelompok Tani ”Aracea” Semarang ini sudah mengoleksi sekitar 10 ribu tanaman hias dari berbagai jenis. Ukurannya bervariasi mulai dari yang kecil sampai terbesar.
Sadu –begitu sapaan akrabnya— mengaku, sudah menggeluti dunia tanaman hias sejak 1997. Saat itu, ia tertarik dengan eksotisme dari tanaham hias, terutama tanaman adenium. Sebab, tanaman ini bisa dibentuk dan lebih bisa mengeksplor sesuai dengan keinginan sendiri. ”Saya paling suka dengan akar atau bonggol yang bisa dibentuk menjadi indah,” katanya mengenang.
Tidak hanya itu, tanaman adenium memiliki kelebihan dibandingkan jenis lain. Yakni, bisa disambung atau okulasi dengan sejumlah bunga lain. Bahkan, ia pernah mengokulasi satu tanaman dengan sepuluh bunga yang berbeda. ”Semua bisa dilakukan sesuai dengan cabang yang disambung. Itu sesuatu yang eksotik dan tidak bisa dimiliki tanaman lain,” ujarnya.
Saat ini, Sadu memiliki sekitar 10 ribu tanaman jenis adenium. Di antaranya, jenis arabicum dan obesum. Bahkan sekarang ini koleksinya sudah ribuan tanaman yang dimilikinya. ”Ya, awalnya hobi sampai sekarang terus berjalan. Senang, enak dilihat di mata,” katanya.
Ia mengaku harus mencari sampai ke pelosok untuk mendapatkan jenis tanaman hias yang berkualitas. Tidak jarang, bapak dua anak ini berburu sampai ke Kediri, Sidoarjo, Krian hingga Gresik, Jawa Timur. Sebab, di Jatim banyak pembudidaya tanaman hias. ”Tapi untuk jenis bunga, diambil dari Jakarta. Setelah itu, baru diokulasi sendiri untuk menghasilkan hasil yang bagus,” jelasnya.
Alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo tahun 1988 ini menambahkan, untuk mengurus tanaman hias membutuhkan ketelatenan tinggi. Sebab, jika kurang mendapat perawatan, tanaman akan kering dan tidak segar. Sehingga tidak memiliki nilai jual tinggi. ”Perawatannya rutin, mulai dari pemupukan, perawatan serta harus mendapat sinar matahari yang cukup,” katanya.
Selama 17 tahun membudidayakan tanaman hias, banyak suka duka yang dialami Sadu. Mulai tanaman kurang bagus sampai mati karena berbagai faktor, terutama ketika musim penghujan. Meski begitu, saat ini Sadu mulai memetik hasilnya. Setiap satu tanaman harganya bervariatif. Termurah Rp 20 ribu sampai yang tertinggi jutaan rupiah. Harga tergantung jenis tanaman dan kualitasnya. ”Memang tidak semua orang senang dengan tanaman hias. Tapi, sudah ada komunitas atau pencinta tanaman yang mengambil,” akunya.
Bendahara Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) Jawa Tengah ini menambahkan biasanya pemesan akan langsung datang sendiri ke rumahnya. Baik dari Semarang, Salatiga sampai Solo. Ia mengaku akan terus membudidayakan tanaman jenis adenium. Karena selain hobi, ternyata mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah. ”Jenisnya kian banyak, cuma saat ini Indonesia belum ada rekayasa genetik. Jadi, kita hanya sebagai follow saja,” katanya.
Di tengah kesibukannya mengurus adenium, saat ini Sadu juga aktif di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Satria Jateng, yang merupakan sayap dari Partai Gerinda. Ia mengabdikan hidupnya untuk ikut memperjuangkan dan memberikan bantuan hukum kepada rakyat kecil. Ia sengaja meluangkan waktu luangnya agar bisa memberikan manfaat kepada orang lain. ”Banyak masalah hukum di lapisan bawah yang belum ter-cover, makanya saya masuk LKBH agar bisa membantu masalah hukum yang dialami grassroot,” ujarnya. (*/aro/ce1)