DEMAK-Pemilihan presiden (pilpres) dinilai telah memunculkan ekspresi kebencian secara berlebihan kepada sosok calon presiden yang tidak disukai. Akibatnya, menimbulkan provokasi, fitnah dan kampanye hitam. Tindakan yang tidak elegan ini akibat perbedaan cara melihat dan menempatkan pilpres sebagai ajang merebut kekuasaan dan bukan sebagai pesta demokrasi.
Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah Mudjahirin Thohir, melihat kondisi seperti itu, maka tokoh agama harus bisa menanyakan pada dirinya sendiri. Yaitu, apakah akan ikut larut bersama menjadi pemain sekaligus juri atau menetralisasi keadaan sembari memberikan pencerahan.
“Bila menjadi tim sukses, apakah akan menggunakan cara yang sama kotornya dengan memanfaatkan ayat-ayat Tuhan untuk menohok musuh lawan atau akan istikomah menjaga kesucian ayat Tuhan dari kepentingan politik kekuasaan?,” tanya dia dalam sarasehan yang digelar Kantor Kesbangpolinmas di Ruang Bina Praja, Pendopo Pemkab Demak, kemarin.
Selanjutnya, kata Mudjahirin, jika lebih memilih bersikap netral, maka akan bersikap masa bodoh atau justru berperan aktif menjadi pencerah. Dalam pilpres, agama kerap ditarik-tarik menjadi fanatisme sepihak dan menciptakan kebencian pada pihak yang tidak mendukung. (hib/ton)