DEMAK-Reaktivasi rel kereta api jalur Semarang-Demak-Rembang maupun Demak-Godong rawan menimbulkan konflik sosial. Karena itu, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan aparat kepolisian terus mengawasi perkembangan di lapangan. Polisi bersama aparat lainnya juga mengamankan pengukuran tanah milik PT Kereta API Indonesia (KAI) di wilayah Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota dan Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam.
Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho melalui Kasubag Humas AKP Sutomo mengatakan, pengamanan lapangan telah dijalankan. “Sejauh ini semua berlangsung aman,” terang Sutomo.
Seperti diketahui, perselisihan antara PT KAI dengan sekitar 500 kepala keluarga (KK) di Kampung Stasiun Kelurahan Bintoro hingga kini belum ada penyelesaian. Karena itu, pengawasan perkembangan terus dilakukan.
Sebelumnya, KAI dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Demak telah mengukur aset tanah di eks emplasment Stasiun Demak. Tanah yang diukur seluas 20 hektare di wilayah Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam dan Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota. Pengukuran dibagi dalam 6 bidang dan rencananya akan dijadikan 6 sertifikat tanah atas nama PT KAI. Pengukuran ini dilakukan masyarakat sekitar telah membangun jalan di kawasan tersebut.
Lurah Bintoro Rustiono mengungkapkan, beberapa tahun lalu telah ada sosialisasi terkait masalah reaktivasi itu. Meski demikian, hingga kini belum ada perkembangan yang berarti. “Kami sebelumnya diminta untuk mendampingi upaya pengukuran tanah oleh PT KAI. Tapi, setelah saya tunggu-tunggu tak kunjung diberitahu lagi,” katanya.
Menurutnya, pihak Kelurahan Bintoro hanya melakukan pendampingan saja. (hib/ton)