KENDAL—Pembagian jatah beras miskin (raskin) di Desa Rowosari, Kecamatan Rowosari dinilai menyalahi aturan. Sebab raskin diberikan bukan kepada warga yang berhak menerima, melainkan diberikan kepada seluruh warga dengan sistem bagi rata (bagita).
Padahal hal tersebut jelas menyalahi aturan. Karena sedianya raskin hanya boleh diberikan kepada warga miskin saja. “Raskin terpaksa kami berikan dengan sistem bagita. Karena untuk menghindari kecemburuan sosial dan dan menghindari perpecahan warga,” ujar Kades Rowosari, M Achadun, Selasa (3/6).
Ia merasa kesulitan untuk membagikan raskin sesuai aturan.  Harusnya jatah raskin 15 kg per penerima, tapi tidak bisa diterima masyarakat. “Kami sudah berusaha melakukan sosialisasi, tapi warga tetap bersikeras menolaknya,” tuturnya.
Pembagian raskinsesuai aturan baru berhasil di Dukuh Krajan. Sedangkan dukuh-dukuh lain di Desa Rowosari belum bisa terlaksana. “Di Dukuh Tegalsari misalnya, masyarakat malah mengancam tidak mau ikut kegiatan RT dan gotong-royong. Jadi kami malah susah sendiri,” akunya.
Selain itu, memang perekonomian warga Desa Rowosari rata-rata masuk kategori miskin. Namun tidak seluruhnya mendapat jatah raskin. “Sehingga seluruh warga menuntut raskin diberikan dengan sistem bagita,” jelasnya. Achadun menambahkan, setiap bulan pihaknya mendapatkan 451 karung raskin berisi 15 kg perkarungnya.
Kades Tambaksari Kecamatan Rowosari, Untung Mujiono mengatakan mulai Maret lalu pihaknya menerapkan pembagian raskin sesuai aturan. Untung mengak,u untuk menjelaskan kepada warga memang tidak mudah. “Untuk persiapan sosialisasi kami butuh waktu dua bulan karena kami harus mengumpulkan tokoh masyarakat, Badan Perwakilan Desa (BPD) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD),” jelasnya. (bud/ton)