Belajar ke Luar Negeri, Kini Dalami Terapi Yoga

244

Ading Helmi Radiany, Babat Alas Kenalkan Yoga di Semarang

Yoga, swing yoga, maupun acro yoga belakangan kian populer, termasuk di Kota Semarang. Ading Helmi Radiany bersama beberapa rekannya turut memelopori perkembangan yoga di Kota Atlas. Seperti apa?
NURUL PRATIDINA
DUA guru yoga tampak fasih menampilkan beberapa pose dalam acro yoga. Kelenturan, kekompakan serta rasa saling percaya antardua guru yoga ini membentuk posisi-posisi yang indah dipandang. Tak hanya mendebarkan, tapi juga decak kagum dari siapa pun yang menyaksikan.
”Untuk bisa sampai pada posisi-posisi tersebut, tentunya memang butuh latihan rutin dan tekun. Karena gerakannya tidak bisa sembarangan,” ujar guru yoga Ading Helmi Radiany saat ditemui Radar Semarang di studionya Jalan Karangrejo Tengah II, Telaga Bodas, Semarang kemarin (3/6).
Siapa yang menyangka, salah satu guru yoga yang melakukan gaya akrobatik tersebut ternyata sudah cukup berumur. Usianya sudah menginjak 48 tahun. Perempuan yang akrab disapa Ading atau Mommy oleh beberapa muridnya itu mengaku awal menekuni yoga memang karena keinginannya untuk tetap bugar di usia yang tak muda lagi.
”Sebelumnya saya aktif di beberapa olahraga yang gerakannya cukup keras. Tapi, seiring berjalannya usia, saya pikir harus mulai bergeser ke yang lebih kalem. Akhirnya, saya pilih menekuni yoga,” katanya.
Ading mengakui, awal terjun ke olahraga ini sekitar 1999, ia masih setengah hati menjalaninya. Tidak seperti yang sebelum-sebelumnya ia tekuni, gerakan yoga cenderung kalem dan harus lebih banyak fokus pada sedikit gerakan dalam satu sesi. ”Karena gerakan yoga itu tidak boleh sembarangan, jadi satu posisi saja bisa cukup lama melakukannya. Awalnya, saya pikir ini apa, lama banget, capek kan jadinya. Tapi, saya berpikir kembali, kalau saya tidak mencintai apa yang saya kerjakan, ya akan sulit. Seiring berjalannya waktu, saya pun jatuh cinta dan sangat menikmati,” ujar perempuan kelahiran Semarang, 5 Januari 1966 ini.
Bukan hanya itu saja, masih ada beberapa tantangan di awal ia memutuskan terjun ke bidang ini. Kali pertama belajar, Ading sengaja sekolah dan berlatih ke guru-guru yoga dunia. Mulai dari Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur dan beberapa negara lainnya.
”Gurunya rata-rata menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, lha padahal bahasa Inggris saya kan pas-pasan. Tapi ya nggak apa-apa, sudah saya niati, dan pasti ada jalan. Entah ketemu rekan yang sudah lama tinggal di Indonesia, atau pakai bahasa tubuh, sembari saya juga belajar bahasa Inggris,” tuturnya sambil tertawa.
Sekembalinya ke tanah air, ternyata pada saat itu, yoga belum se-booming sekarang. Banyak yang masih bertanya-tanya dan ragu untuk ikut berlatih. Bahkan, kali pertama ia melatih, muridnya justru sebagian besar ekspatriat. ”Lagi-lagi saya harus pakai bahasa Inggris hehehee,” katanya sambil kembali tertawa.
Kian lama, yoga juga kian berkembang. Mulai ada swing yoga, dan acro yoga. Variasi  serta kombinasi gerakannya tampak lebih menarik dan memacu adrenalin. Sehingga banyak anak-anak muda yang tertarik untuk mendalaminya.
”Variasi yoga ini memang menarik perhatian. Berbeda dengan awal-awal yang saya istilahkan babat alas untuk mengenalkan yoga di Semarang, saat ini sudah banyak yang berminat. Tapi, untuk sampai ke sana (acro yoga, Red), saya menyarankan untuk terlebih dahulu mendalami yoga klasik,” ujarnya.
Istri dari Munady Radiani ini juga menekankan agar tidak khawatir membuang waktu mendalami yoga klasik. Menurutnya, manfaat yoga cukup banyak. Tak hanya membuat fisik jadi bugar, tapi juga untuk jiwa. Jika kita benar-benar meresapi, tentu membuat lebih tenang dan sabar.
”Sekarang saya bersama adik dan beberapa rekan juga mulai mendalami terapi yoga. Sesuai namanya yoga ini untuk terapi bagi mereka yang menderita penyakit,” katanya.
Ke depan, ibunda dari Muhamad Firdza Radiany dan Ginda Dileifa Radiany juga berharap dapat terus menularkan keahliannya pada anak-anak muda. Sehingga akan banyak tercetak guru yoga profesional. ”Mengingat manfaatnya yang cukup banyak, saya rasa sangat baik bila lebih banyak lagi yang menguasai yoga. Saat ini, sudah ada beberapa murid saya yang mulai fasih dan mengambil spesialisasi sesuai dengan minatnya,” ungkap Ading. (*/aro/ce1)