Usulkan Hari Musik Keroncong

161

PINDRIKAN KIDUL—Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo mengharapkan agar musik keroncong dapat dijadikan sebagai warisan Indonesia yang diakui dunia. Dia juga mengusulkan pemerintah menetapkan hari musik keroncong Indonesia untuk menjaga kelestarian musik ini.  Hal itu diungkapkan Pangdam saat acara rembug musik keroncong Indonesia yang digelar di Wisma Perdamaian, kawasan Tugu Muda, Semarang, Sabtu (31/5).
“Pada acara rembug musik keroncong ini ada beberapa agenda yang akan didiskusikan. Semoga saja hasilnya bisa diterima oleh pemerintah,” ungkap pria yang pernah dijuluki ”Panglima Keroncong” ini.
Hadir sebagai pembicara Prof Dr Victor Ganap MEd dari ISI Jogjakarta, pengamat musik Bens Leo, serta perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Lebih lanjut Pangdam mengatakan, kegiatan untuk mengangkat musik keroncong tersebut merupakan tindaklanjut acara pemecahan rekor MURI menyanyikan 1000 lagu keroncong pada 5 Oktober 2013 lalu. “Dari kegiatan itu muncul ide menggelar kegiatan rembug keroncong Indonesia ini,” katanya.
Pengamat musik Bens Leo mengatakan, musik keroncong di Semarang banyak disukai oleh pejabat, termasuk oleh pangdam, bahkan mendapatkan julukan sebagai Panglima Keoncong. Tetapi, kalau di Jakarta, jarang pejabat apalagi Pangdam yang menyukai musik ini. “Itu dibuktikan ketika saya menjadi juri lomba keroncong. Tidak dijumpai pejabat yang hadir, tetapi di Semarang ada Pangdam yang justru suka musik keroncong,” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk perkembangan musik keroncong, kata Bens, 10 tahun lalu pernah dipadukan dengan musik rock, menjadi Congrock. Pemain dan penonton Congrock ini didominasi anak muda. Sedangkan dari inovasi musik keroncong, lahirlah musik campursari. “Musik campursari diperkenalkan oleh Pak Manthous dari Gunungkidul. Tujuannya, biar keroncong tidak hanya dinikmati oleh kaum tua, tetapi juga oleh kalangan anak muda. Ini sangat luar biasa sekali,” katanya.
Saat ini, kata dia, musik keroncong telah digemari kalangan anak muda dengan melakukan beberapa inovasi. Bens Leo mencontohkan ketika Bondan Prakoso dengan grup band Keroncong Protol mampu membius anak muda. “Sehingga dengan inovasi itu tentunya mampu memberikan nuansa tersendiri bagi kaum muda untuk melestarikan musik keroncong dengan gaya dan inovasinya yang berbeda,” ujarnya.
Dalam rembug musik keroncong kemarin, puluhan grup musik keroncong dari berbagai kota dan kabupaten di Jateng hadir. Mereka ikut urun rembug agar musik keroncong dapat diterima semua kalangan, dan diakui dunia. Grup musik keroncong tersebut juga tampil menghibur peserta rembug yang hadir. (hid/aro)

Tinggalkan Komentar: