Stasiun Jadi Kafe dan Kantor Kontraktor

Kesiapan Reaktivasi Jalur Kereta Api di Jawa Tengah

Rencana pemerintah mengaktifkan kembali jalur kereta api (KA) jalur Pantura yang melalui Demak-Godong dan Semarang-Demak-Kudus-Rembang sudah lama didengar masyarakat. Utamanya yang bertempat di sepanjang lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Demak.
Bahkan, beberapa tahun sebelumnya juga sudah dilakukan sosialisasi oleh PT KAI di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota. Ketika itu, wacana menormalkan kembali jalur KA itu sempat menuai pro dan kontra. Sebab, tidak sedikit warga yang telah memiliki sertifikat lahan dan rumah yang ditempati. Selain itu, ada pula yang hanya memiliki hak guna atau hak pakai. Setelah sosialisasi, sampai sekarang tidak terdengar lagi bagaimana kelanjutannya. Bahkan, warga yang telanjur membangun rumah permanen pun bergeming. Mereka seakan sudah tidak mau tahu soal wacana pengaktifan rel kereta api tersebut.
Suyanto, warga RT 1 RW 1, Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam yang rumahnya menempati persis sebelah Stasiun KA Demak mengungkapkan, meski sudah membangun rumah permanen, ia menyerahkan semua pada PT KAI. ”Kalau mau diaktifkan kembali, ya terserah pemiliknya yakni PT KAI. Sebab, PT KAI memang yang punya lahan. Hanya saja, memang rata-rata lahan sepanjang rel kereta ini sudah ditempati rumah permanen. Saya sendiri baru sekitar tiga tahun ini menempati rumah ini,” jelas Yanto saat ditemui, kemarin.
Dia mengatakan, jalur rel KA yang terkait langsung dengan stasiun Demak sudah banyak yang tertutup cor beton. Karena itu, rel KA tidak lagi terlihat jelas. ”Di Kampung Stasiun ini ada sekitar 70 kepala keluarga (KK) yang menempati lokasi dekat rel KA ini. Bahkan, terminal Kota Demak dulu juga masih masuk wilayah Stasiun Demak,” kata Yanto.
Seperti diketahui, Stasiun Kereta Api (KA) Demak dulu cukup dikenal. Stasiun di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam ini sempat menjadi salah satu titik transit perjalanan KA jurusan Semarang-Jatirogo (Rembang) dan Godong-Purwodadi-Blora. Jalur kereta mulai dari Semarang ke Demak berada di tepi jalan raya Pantura Daendels. Namun, kini jalur itu nyaris tak berbekas.
Di sepanjang jalan antara Sayung hingga Kota Demak sudah dipenuhi bangunan berupa rumah warga, sekolah, perkantoran lembaga pemerintah, hingga lahan dengan dipenuhi tanaman pohon jati. Begitu pula jalur KA dari Stasiun Demak ke arah Godong-Purwodadi -Blora juga sudah hilang. Hanya tersisa satu dua penanda. Di dekat jalur menuju Godong misalnya, masih ada bekas rel serta bekas tiang sinyal kereta. Di sepanjang Desa Ngeluk-Jatilor-Klampok-Godong tidak terlihat bekas rel sama sekali. Sedangkan, di sekitar pertigaan Godong hanya terdapat deretan ruko-ruko. Sementara, sekitar 50 meter arah Purwodadi masih ada rel yang menyembul dan di kawasan Pasar Godong terdapat bekas Stasiun Godong yang juga masih ada sinyal panggungnya.
Terkait Stasiun KA Demak, informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, bahwa sekitar 1986, aktivitas stasiun berhenti total. Karena itu, sejak saat itu hingga sekarang, kondisi fisik bangunan stasiun KA Demak cukup memprihatinkan. Bangunan lama itu makin tua dan kurang terawat. Beberapa genteng stasiun bahkan sudah ada yang lepas.
Hanya sebagian lingkungan stasiun saja yang terlihat berbeda. Ini karena bagian depan stasiun tersebut disulap menjadi kafe dan tempat pengembangan tanaman bonsai. Sedangkan, salah satu ruangan dijadikan kantor Asosiasi Kontraktor Konstruksi Demak.
Pada malam Minggu, lokasi yang dijuluki Stasiun Angkasa ini cukup ramai dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda. Stasiun yang didirikan sekitar 1917 dan baru dioperasionalkan sekitar 1923 ini memang beberapa kali dikontrakkan ke pihak lain.
Tulabi, warga Kampung Stasiun, pensiunan pegawai PT KAI yang pernah bertugas di Stasiun KA Demak ini menuturkan, setelah tak difungsikan pada 1986, beberapa tahun kemudian, stasiun tersebut sempat ditempati Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) Demak. ”Waktu itu, DLLAJR belum punya kantor sendiri sehingga meminjam kantor di Stasiun KA Demak ini,” terang Tulabi.
Pria kelahiran Kudus, 20 Mei 1956 ini menuturkan, dalam perkembangannya, setelah tidak ditempati DLLAJR sekitar 13 tahun silam, stasiun yang berlokasi di lahan seluas 1 hektare ini kemudian dikontrak pihak swasta. Sempat dijadikan tempat menampung garam dari para petani Kecamatan Wedung. Setelah itu, stasiun dikontrak lagi oleh orang lain. Agar terlihat mentereng, wajah stasiun bagian depan sebagian di cat warna hijau. Halamannya dipenuhi tanaman bonsai serta kursi-kursi dan meja untuk pengunjung kafe. Meski begitu, kondisi stasiun makin tidak terawat, utamanya yang bagian belakang dekat pemberhentian kereta api. Rerumputan tumbuh meninggi. ”Begitulah kondisinya sekarang,” ujar Tulabi.
Suami Muti’ah ini, 56, ini menjadi pegawai KA sejak 1975. Dulu, kata dia, saat masih aktif, Stasiun KA Demak cukup ramai penumpang. Setidaknya ada 5 jalur rel di stasiun tersebut. Seperti stasiun lainnya, para pedagang asongan juga turut meramaikan aktivitas di stasiun transportasi darat itu. Namun, beberapa tahun kemudian, penumpang KA yang melalui jalur pantura Demak itu makin menyusut.
Menurut Tulabi, saat masih beroperasi, gerbong KA yang di antaranya terbuat dari kayu, ditarik dengan loko uap seperti yang ada di Ambarawa, Kabupaten Semarang. ”Jalannya kereta memang pelan-pelan,” kata Alumnus Sekolah Teknik Negeri (STN) Kudus pada 1973 ini.
Dia menambahkan, sebagai pegawai KA ketika itu, Tulabi kali pertama ditugaskan di Stasiun Demak. Praktis, ia sempat bekerja selama sepuluh tahun lebih sebelum Stasiun Demak ditutup. Ia lalu dipindah di Stasiun KA Poncol, Semarang. Tugasnya bersiaga memperbaiki kereta. Jika ada kereta anjlok, dia dan tim teknis wajib meluncur ke lokasi.
Terpisah, upaya pemerintah untuk mengaktifkan kembali jalur rel kereta api (KA) pesisir pantura Semarang-Demak-Kudus ke timur dan Godong-Purwodadi perlu dikaji lagi secara mendalam. Sebab, hal tersebut rawan menimbulkan persoalan sosial, utamanya di kalangan pengusaha transportasi darat.
Tokoh masyarakat Demak yang juga ahli angkutan darat Musadad Syarief mengungkapkan, secara sederhana, keberadaan stasiun Demak yang kini kondisinya sudah dijadikan kawasan perumahan dinilai cukup merepotkan. Apalagi, stasiun lama itu juga tak jauh dengan letak terminal Kota Demak. Artinya, kata dia, akan ada masalah yang harus dihadapi bila jalur KA zaman penjajahan itu dihidupkan kembali. Sebab, jarak stasiun dengan terminal sangat dekat. ”Di Jakarta, keberadaan stasiun KA dengan terminal berjauhan. Kita harus belajar dari jalur KA Semarang-Tegal yang dilalui kereta Kaligung. Saat itu, penumpang cenderung memilih naik Kaligung daripada bus kota,” katanya.
Salah satu masalah yang timbul di kemudian hari adalah kerap terjadinya kasus pelemparan fasilitas KA Kaligung tersebut. Kaca sering pecah dilempari batu.  Karena itu, lanjut Musadad, membuka jalur lama KA termasuk di Demak utara tersebut perlu kajian panjang yang transparan.
Kepala Dishubkominfo Demak, Agus Nugroho Luhur Pambudi mengungkapkan, ia belum begitu memahami rencana pemerintah terkait pengaktifan kembali rek KA Demak itu. ”Meski demikian, kalau itu kehendak pemerintah, maka kami harus mendukungnya,” jelas dia.
Hanya saja, kata dia, perlu langkah tepat yang harus ditempuh. Di antaranya perlu sosialisasi intensif, baik terkait kepastian jadwal waktu pengaktifan rel tersebut. ”Jangan sampai program pemerintah itu tidak dipahami masyarakat. Yang penting, PT KAI lebih banyak meluangkan waktu untuk turun ke bawah dan menjalankan sosialisasi di masing-masing tempat di mana jalur rel KA itu mau diaktifkan,” katanya.
Menurutnya, adanya rencana menormalkan kembali rel KA Demak itu patut diapresiasi. Sebab, salah satunya bisa membantu mengurangi padatnya arus lalu lintas di jalur Pantura. Walaupun begitu, bila jadi diaktifkan, pelayanan harus lebih baik dan lebih nyaman dibandingkan moda transportasi lainnya. Selain itu, tepat waktu, tertib dan tidak ada pengamen yang berkeliaran di atas gerbong. ”Kalau persoalan lahan yang ditempati warga, itu kewenangan PT KAI,” jelasnya. (hib/ton/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here