Soto Neon Bikin Ketagihan

428

Soto Neon

HAMPIR di setiap daerah memiliki kuliner soto, termasuk di Kota Semarang. Kekhasan rasa membuat kuliner ini bisa diterima oleh semua kalangan. Kuliner soto di setiap daerah memiliki ciri khas dan cita rasa tersendiri, terutama rasa kuahnya. Kota Rembang memiliki soto yang ditambahkan dengan santan sehingga memiliki tekstur yang kental. Sementara untuk soto Semarang memiliki kuah yang jernih. Seperti yang ada di warung Soto Neon, Jalan  Pringgading 1A/ 27 Semarang.
Sakrani, pemilik warung soto Neon mengaku, sudah berjualan soto sejak 1958. Diberi nama soto Neon, karena saat masih berjualan menggunakan gerobak dorong dulu, dirinya selalu menggunakan neon sebagai lampu penerangan.”Dulu saya masih belum menetap. Masih jualan keliling pakai gerobak dan lampu penerangan neon. Sehingga orang-orang menyebutnya soto Neon,” kenangnya sambil tersenyum.
Kegurihan kuah menjadi daya tarik semangkuk soto Neon. Pak Nie –panggilan akrab Sakrani– tidak mencampurkan penyedap rasa untuk membuat kuah terasa gurih. Kaldu ayamlah yang membuat kuah soto terasa maknyus. Keunikan lain adalah daun bawang segar sebagai pendamping soto. ”Daun bawang memiliki manfaat bagi kesehatan. Soto jadi lebih segar saat disantap,” ujarnya.
Soto Neon juga menyediakan berbagai lauk penggugah selera. Seperti ampela ati, kerang, sate ayam, tahu bacem, perkedel dan tempe. Soto semakin lezat dinikmati selagi masih hangat dengan kuah mengepul mengitari mangkuk. Pelanggan bisa memesan mangkuk kecil maupun besar. Warung ini setiap hari buka dua kali, yakni pukul 07.00- 14.00 dan pukul 16.30- 23.00. ”Biasanya pukul 21.00 sudah habis. Saat Ramadan, pelanggan harus antre jika ingin berbuka puasa di warung kami,” katanya.
Antonius, 35, salah satu pengunjung mengaku rasa soto Neon berbeda dengan soto yang lainnya. Dengan kuah yang gurih, membuatnya ketagihan untuk selalu datang ke warung soto tersebut.“ Bumbunya pas di lidah. Setiap dua hari sekali, saya pasti makan soto di sini,“ akunya.(den/aro)