Semarang Tertinggal dari Solo dan Jepara

197

Jika kota-kota lain sudah kerap menggelar even sepak bola level internasional dengan mendatangkan tim-tim luar negeri. Beda dengan Kota Semarang. Kota ini hanya mampu menggelar laga tim-tim dalam negeri. Kendalanya satu, belum adanya stadion yang representatif berstandar internasional. Padahal fanatisme suporter sepak bola di Kota Atlas sangat tinggi.

SEBAGAI Ibu Kota Jawa Tengah, Kota Semarang seharusnya bisa lebih maju dibanding daerah-daerah lain. Termasuk dalam hal fasilitas olahraga, khususnya stadion sepakbola yang dimiliki kota yang sebulan lalu merayakan ulang tahun ke-467 ini. Dibanding stadion yang dimiliki kota besar lainnya, kondisi stadion yang ada di Kota Semarang memang jauh tertinggal. Bahkan dibanding Solo dengan Stadion Manahan, dan Jepara dengan Stadion Gelora Bumi Kartini (GPK) saja, Semarang tidak ada apa-apanya.
Saat ini tercatat di Kota Atlas terdapat tiga stadion yang rata-rata usianya sudah di atas 20 tahun. Yakni, Stadion Diponegoro, Stadion Citarum, dan Stadion Jatidiri. Stadion Diponegoro milik Kodam IV/Diponegoro, Stadion Citarum milik Pemkot Semarang, sedangkan Stadion Jatidiri milik Pemerintah Provinsi Jateng.
Nama Stadion Diponegoro saat ini memang sudah mulai terlupakan oleh para pencinta sepakbola Semarang. Selain kondisinya memprihatinkan, stadion yang memiliki fasilitas velodrome (lintasan balap sepeda, Red) itu, saat ini lebih banyak dipakai untuk menggelar even-even pertunjukan musik ketimbang even olahraga. Maklum letaknya cukup strategis, relatif dekat dengan jantung Kota Semarang, tepatnya di Jalan Ki Mangunsarkoro.
Stadion Citarum, satu-satunya stadion khusus sepakbola yang ada di Kota Semarang tersebut saat ini kondisinya juga tidak terawat, terutama untuk rumput lapangannya. Bagian luar stadion yang diresmikan pada Februari 1983 oleh Menpora Abdul Gafur ini memang sudah oke. Di bagian depan sudah dibangun puluhan kios. Namun kondisi lapangannya ternyata masih jauh dari layak dan kurang memenuhi standar. Terlebih jika dipakai untuk menggelar even internasional.
Namun pada masanya, Stadion Citarum harus diakui memang menjadi tonggak perkembangan sepakbola di Semarang. Stadion yang sempat menjadi home base PSIS tersebut juga ikut mengantarkan tim kebanggaan masyarakat Kota Atlas sebagai juara kompetisi Divisi Utama PSSI pada musim 1987/1988.
Saat ini, stadion berkapasitas 15.000 penonton tersebut hanya layak untuk menggelar kompetisi-kompetisi lokal. Terakhir, stadion ini digunakan untuk menggelar kompetisi antar klub PSSI Kota Semarang dan turnamen antar Sekolah Sepak Bola (SSB).
Terakhir, Stadion Jatidiri yang berada di kompleks GOR Jatidiri Semarang ini disebut-sebut sebagai stadion paling ‘layak’ di Kota Semarang. Stadion yang diresmikan pada 1991 tersebut, saat ini digunakan sebagai home base tim PSIS Semarang. Namun kondisi stadion berkapasitas 21.000 penonton ini sebenarnya juga sudah tidak layak untuk menggelar even olahraga berskala nasional, apalagi internasional.
Kondisi permukaan lapangan di stadion yang dibangun pada masa Gubernur Jateng Ismail ini cukup buruk. Pun fasilitas penunjang lainnya seperti tribun penonton, toilet, dan ruang ganti pemain juga sudah tidak layak. Kondisi itu tentunya berbanding jauh dengan stadion di kota besar lainnya di Indonesia, sebut saja Kota Surabaya.
Di Kota Pahlawan ini, pemerintah setempat telah merogoh kocek Rp 440 miliar untuk membangun Stadion Bung Tomo dengan kapasitas 55.000 penonton. Stadion megah itu menggantikan Stadion Tambaksari yang dinilai sudah tidak layak. Pun demikian dengan Kota Bandung yang baru saja meresmikan Stadion Gedebage. Stadion berkapasitas 38.000 penonton tersebut dibangun dengan anggaran sekitar Rp 373 miliar.
Di Sleman DI Jogjakarta, pemerintah setempat juga membangun stadion megah, yakni Stadion Maguwoharjo menggantikan Stadion Tridadi Sleman yang dinilai terlalu minimalis. Stadion ini juga menjadi pengganti Stadion Mandala Krida yang sudah tertinggal. Bahkan, di stadion ini, beberapa kali tim-tim luar negeri berlaga. Stadion Maguwoharjo juga menjadi home base PSS Sleman.
Nah, dengan alasan ketidaklayakan Stadion Jatidiri dan sudah tertinggal dengan kota-kota lain, perlukah Kota Semarang membangun stadion baru?
Ketua Asosiasi PSSI Jateng, Johar Lin Eng mengakui, kondisi stadion yang kurang layak itu yang membuat Kota Semarang sepi dari even olahraga berskala nasional maupun internasional. Terakhir, Stadion Jatidiri hanya dikunjungi Timnas U-19 yang melakoni laga ujicoba versus PSIS pada awal 2014 lalu.
“Di Jateng saat ini hanya ada dua stadion yang sudah mencapai standar nasional, yakni Stadion Manahan Solo dan Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara. Selama Tour Nusantara lalu, pelatih Timnas U-19 Indra Sjafrie mengatakan kalau Stadion GBK Jepara kualitas lapangannya paling bagus. Kalau untuk Stadion Jatidiri saat ini kita memang menilai sudah memprihatinkan,” kata Johar Lin Eng kepada Radar Semarang.
Johar mengatakan, untuk menggelar even-even sepakbola level nasional maupun internasional memang ada beberapa kriteria di luar kelayakan kondisi permukaan lapangan, yang menurutnya menjadi kriteria utama yang harus dipenuhi. “Fasilitas penunjang lainnya seperti kelayakan lampu penerangan, kondisi ruang ganti dan pagar pembatas tribun juga menjadi kriteria. Kalau Semarang punya stadion yang memenuhi standar sangat mungkin akan ada even sepakbola nasional dan internasional digelar di sini,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal itu, mantan General Manager PSIS ini mengatakan, kepedulian kepala daerah menjadi faktor utama. ”Di Indonesia, stadion yang bagus rata-rata adalah peninggalan setelah menjadi tuan rumah even Pekan Olahraga Nasional (PON). Nah, pertanyaannya tanpa menjadi tuan rumah PON, apakah ada kemauan untuk membangun stadion yang representatif?” paparnya.
Keberadaaan fasilitas memang berbanding lurus dengan kemajuan pembinaan olahraga. Hal itu dikatakan oleh salah satu pilar PSIS, Ronald Fagundez. Selama 11 tahun merumput di kancah sepakbola Indonesia, pemain berpaspor Uruguay tersebut menilai banyak stadion di Indonesia masih jauh dari kata layak. “Indonesia banyak pemain bagus. Tapi, ketika kita bermain di atas lapangan yang tidak bagus skema serta permainan individu tidak bisa maksimal. Kalau teknik bermain bagus tapi lapangan tidak bagus ya percuma,” beber Fagundez. (bas/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here