Rokok Industri Kecil Tiarap

125

SEMARANG – Jumlah perusahaan rokok di Indonesia beberapa tahun terakhir terus menyusut. Ketidakmampuan bersaing akibat simplifikasi tarif cukai disebut-sebut sebagai salah satu penyebabnya.
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Bidang Pengupahan Noerwito mengatakan, secara nasional pada tahun 2007 setidaknya terdapat sebanyak 4 ribu perusahaan rokok. Kemudian berkurang drastis hingga kini tinggal sekitar seribu. ”Untuk Jateng pada tahun 2007 ada sekitar 1.700, tapi sekarang tidak lebih dari 500,” ujarnya, kemarin.
Menurutnya, penyebab utama hal tersebut dikarenakan adanyanya kebijakan simplifikasi tarif cukai rokok. Tarif ini sangat berpengaruh pada harga, semakin dipepetkan maka harga-harga per kelas akan kian mendekat. ”Tadinya ada ruang gerak, bagi tarif yang paling rendah, agak rendah, sedang hingga tinggi. Nah, sekarang tarifnya dipepetkan. Mau nggak mau berarti harga dari yang kelas paling rendah ke tinggi tidak jauh berbeda,” jelasnya.
Dengan harga yang relatif sama ini, ucapnya, akan sulit bagi pengusaha kecil untuk bersaing dengan pengusaha besar. Ujung-ujungnya pemilik modal terbesarlah yang akan bertahan, dan dikhawatirkan itu adalah pengusaha-pengusaha asing. ”Kami juga khawatirnya akan diberlakukan tarif tunggal. Karena bila demikian, maka akan lebih banyak lagi pengusaha rokok yang gulung tikar. Hanya segelintir saja yang akan mampu bertahan, tergantung dari besar kecil modal yang mereka miliki,” katanya.
Wakil Ketua Sektor Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman Apindo Jateng ini juga kurang setuju bila penetapan kebijakan tersebut dilatarbelakangi tujuan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Menurutnya akan lebih mengena bila masyarakat yang diedukasi terkait bahaya merokok. Bukan justru melakukan simplifikasi tarif. Ini jelas mematikan para pengusaha kecil.
Ia berharap, pemerintah tetap memberikan perbedaan tarif cukai yang cukup. Sehingga memberikan ruang yang cukup bagi pengusaha-pengusaha kecil untuk tetap eksis, sedangkan pengusaha besar bisa tetap menempati kelasnya. ”Kalau tarif kecil murah, dia bisa menjual lebih murah. Kalau bisa jual banyak, otomatis naik kelas, tarif jadi mahal. Sehingga memberi kesempatan yang kecil untuk berkembang. Tapi kalau tarif makin dipepet dan diarahkan ke tarif tunggal maka sejarah rokok hanya tinggal kenangan,” tandasnya. (dna/smu/ce1)