PPSM Ancam Boikot

Saat Laga Lawan Persip

MAGELANG — Hingga Senin (2/6) kemarin, manajemen PPSM Sakti belum memberikan penjelasan terkait gaji yang belum diterima jajaran pelatih dan pemain. Untuk itu, kesebelasan asuhan M. Hasan, berencana memboikot laga melawan Persip Pekalongan, pada Rabu (4/6) besok.
”Jika sebelum tanggal empat (4/6) kita belum menerima gaji, pemain sepakat tidak akan tampil melawan Persip,” kata pelatih PPSM, M. Hasan, kemarin. Laga melawan Persip Pekalongan, akan digelar di Stadion Madya Kota Magelang. Pertandingan ini merupakan ketiga pada putaran kedua.
Menurut Hasan, langkah tersebut ditempuh sebagai bentuk protes pemain terhadap manajemen. Mereka mengaku sudah berkali-kali memberikan kelonggaran kepada manajemen. ”Semua sudah sepakat. Kita harap manajemen segera melakukan langkah-langkah.”
Sebelumnya diberitakan, para pemain dan pelatih PPSM Sakti belum menerima gaji bulan Mei. Bulan April, juga terancam tak terbayarkan.
Padahal, sesuai perjanjian dalam kontrak, manajemen harus mengeluarkan gaji bagi pemain pada hari keempat per bulannya. Menurut Hasan, setiap bulan, manajemen harus mengeluarkan uang Rp 130 juta untuk gaji pelatih dan pemain. ”Itu sudah termasuk pemain asing.”
Terkait tingginya gaji yang harus dikeluarkan, Hasan mendesak manajemen untuk merealisasikan secepatnya. ”Satu bulan dulu diselesaikan, biar tidak terlalu berat. Kalau sudah Juni harus diselesaikan dua bulan Rp 260 juta kan berat,” sarannya.
Terpisah, Manajer PPSM Sakti Widarto mengklaim, pihaknya sedang mengusahakan pembayaran gaji pelatih dan jajarannya. ”Manajemen tidak berdiam diri. Kita sedang berusaha,” katanya. Tadi malam, pihak manajemen menggelar rapat. ”Nanti segera ada keputusan,” terangnya.
Sejauh ini, Widarto mengaku sudah kerap merogoh kocek pribadi hingga ratusan juta untuk membayar gaji pemain dan urusan klub. ”Karena memang minim dukungan dari berbagai pihak.”
Pemasukan dari penonton, katanya, juga tidak bisa banyak menolong. ”Untuk keperluan teknis saja sudah sangat besar pengeluarannya,” terang Widarto.
Untuk itu, dia berharap dapat dukungan dari pengusaha maupun warga yang peduli dengan sepak bola Magelang. ”Kondisi ini memang tidak pernah kita inginkan.”
Sementara itu, kemarin, para pemain PPSM Sakti tetap menggelar latihan di Stadion Madya Kota Magelang. Para pemain masih semangat mengikuti proses itu.

Pemkot Tak Bisa
Berbuat Apa-apa


MESKI PPSM Sakti Magelang sedang terpuruk dalam kondisi keuangan, Pemkot Magelang tidak bisa berbuat banyak. Utamanya, dari sisi pendanaan.
     
”Kalau membantu dana tentu tidak bisa. Karena sudah ada aturan yuridisnya,” ujar Kabag Humas Santel Setda Kota Magelang, Sutomo Hariyanto, saat dihubungi, kemarin.
Menurut dia, peraturan itu tertuang dalam Permendagri No 22 Tahun 2011. Yakni, perihal pemerintah daerah membiayai klub sepak bola.
     
”Klub harus mampu bertahan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Sehingga melarang bantuan APBD untuk dikucurkan kepada klub sepak bola.”
Jika Pemkot mengalokasikan, justru melanggar aturan hukum. ”Jadi, Pemkot tidak bisa membantu.”

Meski begitu, Pemkot mengklaim sejauh ini sudah men-support tim, dengan memberikan bantuan kepada PPSM Sakti berupa sarana dan prasarana. Salah satunya, Stadion Madya, Magelang, yang berstandar nasional dan menjadi markas Macan Tidar.

”Stadion itu sebagai fasilitas untuk berlatih para pemain. Soal dana, sebenarnya klub juga bisa menggandeng pengusaha untuk mendapatkan sponsor. Dari situlah, aliran dana menjadi sah, bukan berasal dari APBD.”
Pemkot, sambung Sutomo, sejauh ini gencar memberikan sosialisasi dan imbauan kepada para pengusaha di Kota Magelang, agar membantu sisi materi PPSM.
”Pak Wali (Wali Kota Sigit Widyonindito) pernah mempertemukan dengan pengusaha-pengusaha, supaya bisa memberikan dalam wujud sponsor dan lainnya untuk membantu PPSM Sakti.”

Pendanaan berasal dari sponsor, diharapkan dapat menggantikan ketergantungan APBD yang sudah sejak lama dipraktikkan di sektor persepakbolaan Indonesia.
Apalagi, saat ini, masih dalam proses masa transisi, agar dana klub sepak bola profesional benar-benar mandiri.
Sutomo menegaskan, meski dari sisi keuangan Pemkot tak dapat memberikan bantuan langsung, namun pihaknya berjanji akan memberi keringanan fasilitas dan aset kepada PPSM. Salah satunya, aset yang disewakan.

Anggota Pendowo Limo, pengurus Simolodro, Slamet Riyanto menyayangkan, skuad Macan Tidar tidak pernah mendapat perhatian dari Pemkot maupun stakeholder lainnya. Ia pun menuding Pemkot  tak mau meminjamkan fasilitas bus untuk mengangkut pemain ke Stadion Madya, sesaat sebelum laga kandang melawan PSIS Semarang, akhir pekan lalu.

Parahnya, skuad PPSM justru harus susah payah menyewa bus dengan biaya yang cukup mahal. Padahal, dia menilai, jika PPSM mendapat dukungan dari Pemkot, besar kemungkinan para pemainnya dapat termotivasi dan lebih bersemangat lagi. (vie/lis/ce1) (vie/isk/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here