SEMARANG – Pengprov Perbakin Jateng tetap akan mempertahankan dua petembaknya yaitu Maxima Rizado dan Erric Angga Ardiansyah yang mengajukan surat pengunduran diri sebagai atlet Jateng dan ingin mutasi ke Jabar.
Dipertahankannya Rizado dan Erric lantaran keduanya masih masuk dalam daftar atlet pelatda dan diproyeksikan bisa merebut medali emas di PON 2016 di Jabar. ”Keduanya masih kami proyeksikan bisa tampil di PON. Bahkan lebih dari itu, mereka kami gadang-gadang untuk kembali memberikan medali emas seperti PON 2012 lalu di Riau,” kata Kabid Target Perbakin Jateng Rudy Dwi Tjahyanto.
Seperti diberitakan, Maxima Rizado dan Erric masuk dalam daftar 23 atlet Jateng yang mengajukan mutasi kepada KONI Jateng. Padahal keduanya atlet penyumbang medali emas di PON lalu. Di Riau, Rizado yang akrab disapa Dodo merebut emas di nomor air rifle 10 m beregu putri bersama Shilla Prasasti dan Dinnie AW, sedangkan Erric membuat kejutan dengan merengkuh emas di air rifle 10 m perseorangan junior putra.
Diakui Rudy, kedua petembak tersebut memang sudah mengajukan surat kepada pengprov. Erric sudah tiga kali, sedangkan Dodo sekali. Hanya saja, katanya, Pengprov Perbakin bersikukuh tak memberikan surat rekomendasi kepada kedua atlet tersebut, karena masih diandalkan untuk PON Jabar. ”Kami sudah membalas surat mereka. Kepada Perbakin, Erric beralasan sudah bekerja di Jabar. Dan sikap Perbakin tegas, tak memberikan rekomendasi. Apalagi, KONI Jateng juga meminta agar para atlet potensial untuk sebisa mungkin digondheli,” ujarnya.
Dan nantinya jika sampai soal ini dibawa ke sidang Badan Arbitrasi Olahraga Republik Indonesia (BAORI), dan keduanya lepas, Rudy menyebut mau tak mau, pihaknya sudah menyiapkan pengganti. Dia mencontohkan, bahwa dalam nomor beregu selalu ada empat orang yang disiapkan. Dengan begitu, ada suasana kompetisi di tim.
”Jika Dodo pindah, kami punya petembak keempat yaitu Norma Gupita dari Klaten. Demikian pula andai kami tak bisa nggondheli Erric, berarti harus menyiapkan penggantinya. Ada dua nama yang masih aktif berlatih yaitu Niko Alvian dan Ricky Gondoatmodjo yang bersama Bonnie Bagus dan Andy Hendrata merebut perak di beregu 10 m air rifle putra di PON 2012,” imbuhnya.
Menyongsong PON 2016, sambung Rudy, Jateng sudah mendapatkan kuota lima atlet dari KONI Jateng untuk dipelatdakan. Namun karena dana pelatda sejak Januari lalu belum turun, cukup mempengaruhi kuantitas latihan di kompleks Lapangan Tembak Jatidiri.
”Kuantitasnya menurun. Apalagi harga peluru sekarang mahal. Kami tetap menjaga kualitas latihan. Namun kuantitas atau rutinitas berlatih menurun. Atlet senior seperti Shila dan Dinnie masih tetap latihan. Mungkin nanti setelah dana pelatda turun bisa rutin seperti sedia kala,” kata mantan manajer tim tembak Jateng di PON 2012 itu.
Rudy berharap, cabang menembak masih bisa mempertahankan tradisi medali emas di PON Jabar. Maka dari itu, pelaksanaan pelatda bisa optimal dalam upaya mematang para petembak. Pada PON lalu di Riau, Jateng membawa pulang tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. (bas/mu)