BENDAN DUWUR – Pemerintah berencana mengaktifkan kembali 10 jalur kereta api (KA) di Jawa Tengah untuk membenahi transportasi publik. Jalur KA yang akan direaktivasi adalah jalur Tuntang-Kedungjati, Solo-Wonogiri, Wonosobo-Purwokerto, Ambarawa-Magelang-Jogjakarta, dan Semarang-Demak-Kudus-Rembang. Selain itu, reaktivasi jaringan rel jepara, jalur Demak-Godong-Purwodadi-Blora, Blora-Cepu, Wonogiri-Baturetno dan pengembangan Jalur Baturetno-Teluk Pacitan.
PT KAI juga akan mengembangkan rute KA komuter meliputi, Weleri-Kaliwungu-Semarang-Brumbung-Gubug, Gambringan-Kradenan, Brumbung-Kedungjati-Gundih, Semarang-Demak-Godong-Purwodadi-Gambringan-Gundih, Kedungjati-Tuntang- Ambarawa.
Konsultan pembuatan rencana induk Kereta Api Perkotaan Semarang, Djoko Setijowarno yang juga Dosen di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata mengatakan, untuk mengaktifkan kembali jalur tersebut, setidaknya butuh dana Rp 20 miliar setiap satu kilometer. ”Dengan mengaktifkan 10 jalur lama tersebut, sangat berpotensi mengurai kemacetan, yang belakangan ini menjadi problematika transportasi di Jawa Tengah,” kata Djoko.
Proyek pembenahan transportasi tersebut bisa sukses jika ada subsidi pemerintah untuk pengguna transportasi KA. Menurutnya, mahalnya tiket KA saat jalur Jogja-Solo-Semarang saat masih dibuka, menjadi penyebab utama jalur tersebut sepi penumpang.
”Semisal harga tiket Rp 10 ribu, yang Rp 5 ribu harus disubsidi pemerintah. Berkaca dari jalur Joglosemar dulu yang tiba-tiba sepi karena harga tiket yang mahal,” kata Djoko.
Dalam hal ini, Djoko juga mengkritisi pemerintah provinsi yang dinilainya setengah hati dalam memecahkan masalah transportasi.
”Jikalau pemerintah benar-benar ingin memihak rakyat, jangan cuma menggedor meja di jembatan timbangan barang, namun harus berani menggedor subsidi untuk pengguna transportasi KA ini,” kata Djoko.
Menurutnya, sistem KA di Jateng khususnya sudah memenuhi syarat, namun pengelolaan masih menjadi pertanyaan. ”Seharusnya ada kerja sama yang punya kepentingan dalam proyek ini. Bukan PT KAI, namun pemerintah,” katanya.
Moda transportasi kereta api sebagai salah satu moda transportasi memiliki karakteristik dan keunggulan khusus. Terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut, baik orang maupun barang secara masal, menghemat energi, menghemat penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi, memiliki tingkat pencemaran yang rendah, serta lebih efisien dibandingkan dengan moda transportasi jalan untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang padat lalu lintasnya, seperti angkutan perkotaan.
Humas Daop 4 Semarang Suprapto mengatakan rencana reaktivasi sejumlah jalur kereta api di Jateng sempat didengar. Kendati demikian, pihak yang berhak menentukan regulasi terkait hal tersebut adalah Dirjen Perkeretaapian.
”Memang sempat dengar ada rencana tersebut. Tapi terkait perealisasian rencana, serta pengembangan ada di tangan Dirjen Perkeretaapian. Sedangkan kami merupakan operator dan juga bagian pemeliharaan,” ujarnya. (mg1/dna/ton/ce1)