Melindungi Model dari Oknum Fotografer Nakal

30

Lebih Dekat dengan Komunitas Model Semarang (KMS)

Menjadi model memang mengasyikkan. Tapi, pekerjaan ini juga penuh risiko. Maklum saja, dengan wajah cantik dan bodi aduhai, tentunya profesi ini rawan godaan serta ulah usil pria tak bertanggung jawab. Salah satunya oknum fotografer nakal.

ADENNYAR WYCAKSONO

TAK semua model bergabung dalam agensi. Ada pula yang bekerja sebagai model freelance. Mereka menerima job pemotretan, peragaan busana hingga diboking saat acara peluncuran produk.
Saat bekerja itu, risiko mendapat perlakuan tak senonoh kerap terjadi. Nah, untuk mengantisipasi hal itu, sejumlah model Semarang, membentuk wadah atau komunitas model. Namanya Komunitas Model Semarang (KMS).
”Ini menjadi wadah kami sesama model. Komunitas ini melindungi para model yang ada di Semarang dari ulah oknum fotografer nakal,” kata Ketua Komunitas Model Semarang, Yuanisa kepada Radar Semarang.
Yuanisa yang sehari-hari bekerja sebagai presenter di salah satu stasiun televisi lokal Semarang ini menceritakan, Komunitas Model Semarang dibentuk bersama lima temannya sesama model, yakni Anggi Ang, Herlina, Rani, Malla dan Bella. “Dulunya kami hanya pengin berkembang, dan terkenal, tapi banyak oknum nakal membuat kami fokus melindungi para model,” ujarnya.

Yuan –panggilan akrabnya–mengatakan, KMS dibentuk pada 20 Oktober 2012. Awalnya, mereka menjadi model produk di CV Multicasa Semarang. “Kami berenam adalah model di CV Multicasa yang ada di Jalan Hasanudin, lalu kami membentuk komunitas dan sering kumpul bareng. Kantor CV Multicasa juga menjadi basecamp kami,” katanya.
Tujuan utama pembentukan KMS, jelas dia, adalah sharing pengalaman dan tentunya sharing job. Saat ini, anggota KMS sendiri berjumlah 130 orang dari berbagai kalangan, mulai pelajar hingga mahasiswi. “Kami pengin berkembang, dan banyak dikenal. Selain itu, kami ingin jadi model profesional,” ujarnya.
Selama kurang lebih 2 tahun berkiprah sebagai model, Yuan mengaku tidak ada duka yang dihadapi. Menurutnya, profesi model sangat menyenangkan, sehingga mereka pun enjoy dalam menjalani profesi tersebut. “Di komunitas ini, kami banyak sharing pengalaman, dan sama-sama belajar. Yang jelas, semua enjoy, tidak ada duka dalam menjalani profesi ini,” katanya.

Salah satu anggota KMS, Herlina Susanti, mengaku, selama bergabung di komunitas model, ia mendapat banyak ilmu dari sharing dengan sesama model. Misalnya, ilmu yang bisa diaplikasikan saat sesi pemotretan. “Kita bisa belajar make up, cara jalan, pose dan lain-lain,” ujarnya.
Selama setahun terakhir ikut KMS, ia mengaku cukup enjoy. “Kalau ada job kami selalu sharing. Jadi, tahu mana fotografer yang nakal dan mana yang tidak. Kami saling memberi tahu,” tandasnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here