PEKALONGAN-Konser perdana Iwan Fals di Kota Pekalongan, dibuka dengan dua tarian tradisional yang menceritakan proses pembuatan batik dan kain, di Hotel Sahid International Convention Center, Jalan dr Soetomo, Sabtu (31/5) kemarin malam. Konser dalam peringatan Hari Bumi tersebut dihadiri banyak pejabat, termasuk Wali Kota Pekalongan, Basyir Ahmad.
Dalam kesempatan tersebut, pemilik nama lengkap Virgiawan Listianto ini memang sengaja meminta band pembuka dengan dua tarian agar masyarakat Pekalongan turut melestarikan budaya negeri sendiri. Selanjutnya, Iwan Fals menghentakkan panggung dengan lagu protes politis, Pesawat Tempur. Hampir semua penonton turut bernyanyi. Penonton kelas festival paling bersemangat dengan gayanya masing-masing.
Lantas bergantian, Mata Indah Bola Ping Pong, Menanti Seorang Kekasih, Entah dan Yang Terlupakan, menjadikan konser semalam membawa suasana romantis. “Hati-hati berbuat dosa, nanti senyumnya terus mengikuti,” kelakarnya setelah menyanyikan lagu Entah.
Dirinya juga tidak segan menyanyikan karya orang lain, Aku Bukan Pilihan karya musisi Pongky. Kemudian Izinkan Aku Menyanyangimu, Ibu, Ujung Aspal Pondok Gede dilanjut tanpa henti. “Jangan dimakan aspalnya pak pejabat, biar jalannya bagus,” ucapnya disambut geger para penonton pasca menyanyikan Ujung Aspal Pondok Gede.
Musik ala Iwan Flas yang terdengar sederhana, dimainkan dengan alat musik beragam dengan teknik tinggi. Pemusik pengiringnya terlihat ribet berganti-ganti alat musik. Bahkan dalam satu lagu bisa ganti sampai tiga kali alat.
Hadapi Saja, lagu yang menceritakan kisah anaknya yang meninggal, mengawali tembang-tembang yang semakin kelam dan penuh kegelisahan. Bahkan, lagu Pohon Untuk Kehidupan memberi pesan moral betapa pentingnya pohon untuk hidup masunia. “Pohon itu penting, juga pohon mangrove. Jika di Pekalongan mangrove tumbuh terus, anak cucu Dewi Lanjar pasti senang,” tuturnya berfilosofi. “Semoga di Pekalongan orang-orangnya juga sregep (rajin, red) dalam kebersihan,” ujarnya sebelum menyanyikan lagu Sampah.
Lagu-lagu bersifat sindiran kepada penguasa seperti Bento, Bongkar dan Orang Pinggiran semakin menunjukkan jati diri Iwan Fals sesungguhnya. “Saya masih semangat ke daerah penggiran, untuk menggali nilai-nilai luhur manusia,” tuturnya setelah menyanyikan lagu Orang Pinggiran.
Musiknya, kata Iwan, berasal dari kegelisahan orang pinggiran, tapi diolah menjadi bermanfaat dan memotivasi. “Ini bisa memberikan inspirasi teman kita yang berjuang di negeri ini,” bebernya.
Surat Buat Wakil Rakyat, Tikus-tikus Kantor, Umar Bakri, Cita-Cita meluncur tanpa cela untuk menyindir pimpinan di negeri ini. Di lagu terakhir Mata Dewa yang berlirik tentang indahnya pantai dan negeri ini, dipersembahkan kepada Dewi Lanjar, sosok mitologi kepercayaan orang Pekalongan sebagai penunggu Pantai Slamaran Pekalongan. (han/ida