Hobi Main Komputer, Raih Juara Desain Grafis

207

Siswa-Siswa Berkebutuhan Khusus yang Berprestasi (2)

Tiara Julia Aldini merupakan siswa SMP-LB Dena Upakara Wonosobo yang berprestasi. Pada 2013 lalu, ia meraih juara I desain grafis tingkat Provinsi Jawa Tengah.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

KESAN pertama bertemu Tiara Julia Aldini, orang akan menyimpulkan bahwa dia merupakan pribadi yang pemalu. Hal itu tampak saat wartawan koran ini berkunjung ke SMP-LB Dena Upakara Wonosobo. Beberapa kali ditanya, Dini— sapaan intimnya— hanya menjawab seperlunya saja.
Namun, saat tema pembicaraan mengenai dunia komputer, desain grafis, serta tata boga, siswa tunarungu ini, mulai banyak bicara. Tepatnya, dia menjawab lebih panjang dan detail.
Dini merupakan siswi yang mempunyai pendengaran kurang. Karenanya, dia belajar di SMP khusus tunarungu di Dena Upakara. Setelah belajar sejak usia 7 tahun, Dini yang saat ini duduk kelas IX SMP-LB, kemampuan bicaranya lancar.
”Setelah lulus SMP, saya ingin melanjutkan di SMA umum,” kata Dini, didampingi Suranto guru pendamping desain grafis SMP LB Dena Upakara.
Dini mengaku bercita-cita menjadi ahli komputer. Sekaligus, menjadi ahli tata boga. Karena itu, dia selalu menyempatkan waktu untuk belajar komputer. Kesempatan belajar komputer di sekolahnya memang pendek. Satu minggu, hanya dua kali.
”Kalau waktu liburan dan pulang ke rumah, saya bisa tiap hari belajar komputer. Belajar banyak hal tentang komputer,” kata anak kelahiran Jakarta 19 Juli 1995 itu.
Karenanya, putri kedua tiga bersaudara pasangan Mochammad Yahya-Kasmini Puji Austuti itu menyukai dunia desain grafis. Pada 2013 lalu, Dini mampu menyabet juara I Lomba Disain Grafis tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam lomba yang dihelat Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. ”Kami bersyukur, bisa unggul dibanding beberapa sekolah lain di Jawa Tengah,” tutur remaja asal Semarang itu.
Dalam lomba itu, Dini mengaku tak cukup sulit untuk membuat karya. Sebab, tema lomba harus berisi mengenai desain makanan ringan khas tradisional. Setelah belajar cukup panjang, dia menemukan inspirasi membuat desain grafis berisi kemasan makanan ringan pisang krispi.
”Wonosobo mempunyai potensi pisang, sudah ada yang kembangkan menjadi pisang krispi, rasanya enak. Makanya saya tertarik membuat desain kemasannya,” tuturnya.
Dengan hasil ini, Dini mengaku termotivasi untuk belajar lebih jauh lagi mengenai dunia komputer. Selain itu, tetap belajar juga mengenai tata boga, menggambar, menjahit dan bordir. ”Saya juga punya keinginan menjadi desainer,” cetusnya.
Dini meyakini, setelah lulus SMP-LB, bisa diterima di sekolah umum. Selain penguasaan pendidikan di sekolahnya cukup baik, juga mempunyai kemampuan komunikasi lebih baik. Apalagi, dia tercatat mempunyai prestasi dalam desain grafis. ”Tugas saya belajar lebih keras, agar diterima di sekolah umum.”
Suranto, guru pendamping komputer dan desain grafis mengatakan, prestasi Dini berdampak baik dalam sistem pendidikan di SMP-LB Dena Upakara. Sebab, sebelumnya, siswa hanya mendapatkan pendidikan komputer. Namun setelah Dini meraih prestasi di bidang desain grafis, saat ini sudah dibuka ekstrakurikuler desain grafis dan diikuti 9 siswa.
”Sebelumnya hanya pelajaran komputer. Setelah ada lomba dan siswa kami menang, kami merasa perlu membuka ekstrakurikuler dan diminati sekitar 9 orang.”
Dengan dibukanya pelajaran tambahan ini, Suranto berharap akan lebih memberikan peluang bagi siswa dalam menekuni bidang pendidikan yang diminati. Sehingga kelak setelah lulus, bisa menggunakan keilmuan itu, dalam memasuki dunia kerja.
”Jadi tidak sekadar memperebutkan kejuaraan. Lebih dari itu keilmuan yang didapat bisa bermanfaat terhadap diri anak, sekaligus kepada orang lain,” pungkasnya. (*/lis/ce1)

Tinggalkan Komentar: