Ganti Rugi Belum Jelas, Warga Resah

Proyek Underpass
Jatingaleh

TINJOMOYO–Proyek underpass Jatingaleh masih dalam tahap pengukuran dan pematokan lahan yang akan dibebaskan. Namun warga yang lahannya dipastikan terkena pembebasan sudah mulai resah. Mereka resah karena hingga kini belum ada kejelasan soal nilai ganti rugi.
Marsono, warga Jalan Teuku Umar, Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik saat ditemui Radar Semarang, Sabtu (31/5), mengakui, hingga kini belum ada dialog antara warga dengan pemerintah tentang nilai besaran ganti rugi lahan
“Sudah diukur dan dipatoki, tapi hingga kini belum ada dari pihak pemerintah kota maupun provinsi yang datang menemui kami terkait ganti rugi,” ujarnya.
Marsono mengaku, rumahnya bakal dikepras seluas 19 meter persegi. Mengingat harga tanah per meter di lokasi ini mencapai Rp 20 juta-Rp 25 juta, maka ia pun mengharapkan besaran ganti rugi sebesar itu.
Ketua RW 5 Kelurahan Tinjomoyo, Ansori, mengatakan, seharusnya pemerintah kota (pemkot) juga menyelesaikan permasalahan sisa bangunan rumah warga yang terkena dampak proyek underpass. Dari dampak proyek pembangunan jalan bawah tanah ini, menurutnya, kerugian besar diterima oleh para pelaku usaha di lokasi tersebut.
“Ada beberapa ruko yang akan terpaksa tutup, karena sebagian besar lahannya masuk dalam pembangunan underpass. Sampai saat ini juga belum dibicarakan,” kata Ansori.
Ansori yang rumahnya juga terkena dampak pembangunan proyek underpass berharap pemerintah kota maupun provinsi dapat berlaku bijak dalam menangani keluhan warga tersebut. “Tidak menutup kemungkinan nanti pada saat tawar-menawar ganti rugi akan alot,” ujarnya.
Dikatakan, sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK) di sepanjang Jalan Teuku Umar akan terkena dampak pembangunan underpass Jatingaleh. Kesepuluh KK tersebut adalah Anwar, Marsono, Juariah (almarhum), Budi, Siswanto, Ansori, M Jafar, Komar, Asyadi, dan Wasinah.
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah melakukan pengukuran dan pematokan lahan yang terkena proyek, Dinas Bina Marga Kota Semarang akan melakukan sosialisasi kepada warga yang lahannya terkena penggusuran. Pengukuran sendiri sudah dilakukan mulai pertigaan Jalan Teuku Umar dan Jalan Kesatrian hingga sebelum tanjakan Gombel. (mg1/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here