Dipanggil Kasad ke Jakarta, Dibayar Rp 5 Juta

156

Muhammad Alimin, Pemangkas Rambut Langganan Jenderal

Muhammad Alimin bukan pemangkas rambut Madura biasa. Sebab, pelanggannya mulai dari kalangan biasa hingga para jenderal. Salah satunya Kasad Jenderal TNI Budiman. Seperti apa?

M. RIZAL KURNIAWAN

SIAPA bilang menjadi pemangkas rambut Madura penghasilannya minim. Asal bisa menjaga kualitas pelayanan dan ramah, pasti banyak mendatangkan pelanggan. Ini seperti yang dialami Muhammad Alimin, pemangkas rambut Madura di Jalan Kawi Raya, tepatnya di dekat Jalan Kagok Dalam II, di samping kampus Stikes Elisabeth Semarang.
Ketika koran ini mendatangi ’salon’ bercat warna hijau milik Amin –sapaan akrab Muhammad Alimin— pria berbaju merah itu tengah sibuk memangkas rambut pelanggannya, salah satunya pejabat kepolisian di Polrestabes Semarang.
Kondisi ’salonnya’ memang tidak jauh beda dengan tempat pangkas rambut Madura lainnya. Sangat sederhana, berukuran sekitar 2,5 meter kali 3 meter. Perlengkapan pangkas Amin tertata rapi di sudut ruangan. Satu kursi untuk praktik, dan satu bangku memanjang disediakan bagi pelanggan yang antre.
Kipas angin manual pun terpasang di atas ruangan, guna mengusir hawa panas di ruangan sempit itu. Memang sangat sederhana. Yang menjadi pembeda dengan tempat pangkas rambut Madura lainnya adalah hiasan pigura berukuran sekitar 4R yang di dalamnya terpampang foto Amin bersama pejabat kepolisian dan TNI Jawa Tengah. Di antaranya Kapolda Jateng Irjen Pol Dwi Priyatno dan Kasad Jenderal TNI Budiman.
Belum juga selesai memangkas rambut tiga pelanggan yang sudah antre sejak tadi, sejumlah orang pun datang dan menanyakan nomor antrean. ”Masih kurang tiga lagi,” jawab Amin dengan akrab. ”Ya, sudah nanti tak kembali lagi,” timpal orang itu.
Itulah kesibukan Amin sehari-hari. Ia membuka usaha jasa pangkas rambutnya itu mulai pukul 09.00 sampai 21.00. Dalam sehari, suami Sri Wahyuni itu bisa mendapatkan penghasilan Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu dari jasanya memangkas rambut. Sekali pangkas rambut tarifnya Rp 13 ribu.
Pelanggannya mulai kalangan bawah sampai pejabat kepolisian dan TNI. Saat ditanya sejumlah pejabat berpangkat jenderal yang pernah menggunakan jasanya, Amin menyebutkan mantan Kapolda Jateng Irjen Pol Didiek Sutomo Triwidodo, Irjen Pol Alex Bambang Riatmojo, Irjen Pol Edward Aritonang, Pangdam Langgeng Sulistyo, dan Kepala Staf Kodam (Kasdam) IV Diponegoro Sohib Burahman. ”Masih banyak lagi, tapi saya lupa,” ujarnya sembari mengingat.
Ayah dua anak itu mengaku tak canggung jika pelanggannya seorang jenderal. Dia pun tidak menyangka jika jasanya dipakai kalangan jenderal. Selama ini, nomor ponselnya memang sering diminta para pelanggannya. Suatu ketika dia ditelepon oleh ajudan Kapolda dan pangdam, kemudian diminta untuk datang ke rumah dinasnya.
”Mungkin dapat rekomendasi dari anak buahnya atau ajudannya. Saya diminta datang ke rumahnya untuk memotong rambut. Dan saya profesional saja, sehingga tidak canggung meski itu kepala jenderal,” kata ayah Alif dan Kiki ini.
Ternyata para jenderal tersebut cocok dengan hasil potongan Amin. Sehingga setiap sebulan setengah atau dua bulan, dia selalu di-calling untuk memangkas rambut di rumah dinas. Hingga suatu ketika sang jenderal pindah tugas di luar daerah, jasa Amin pun terus dipakai.
”Paling jauh saya dipanggil ke Jakarta sama Pak Kasad Jenderal TNI Budiman. Semua biaya akomodasi saya ditanggung oleh beliau, biaya pesawat pulang pergi sudah ditanggung, jadi saya tinggal berangkat saja. Saya tidak pernah mematok harga, tapi biasanya saya diberi Rp 5 juta setiap saya dipanggil ke Jakarta, itu di luar biaya transpor,” katanya, yang sampai sekarang masih rutin dipanggil ke Jakarta untuk mencukur rambut mantan Pangdam IV/Diponegoro itu. ”Minimal satu bulan setengah saya diminta ke Jakarta untuk mencukur beliau,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, pelanggannya Manajer Telkom yang sekarang pindah ke Bandung pun juga masih memakai jasa Amin. ”Sama seperti Pak Budiman, saya dibiayai ke Bandung, dan biasanya saya juga diberi Rp 5 juta sekali potong,” katanya.
Menurutnya, selama 13 tahun menjalani pekerjaannya sebagai pangkas rambut Madura, yang terus dia pertahankan selain kualitas, juga rasa kekeluargaan kepada setiap pelanggannya. Ketika sedang mencukur, Amin berusaha grapyak, mengobrol santai dengan konsumennya. Baik masalah tempat tinggal, keluarga, hingga pekerjaan. Hasil dari pekerjaannya itu, Amin bisa membangun rumah, membeli kendaraan, dan menabung.
”Dari hasil yang saya dapat, yang paling istimewa ya mendapat rumah. Saya bisa beli rumah dari hasil kerja sebagai pemangkas rambut,” kata pria kelahiran Madura, 12 Agustus 1982 ini. (*/aro/ce1)