Di Sela Bermusik, Bagikan Makanan di Pinggir Jalan

136

Komunitas Musik Underground Pure Sickness Community

Musik rock underground masih memiliki penggemar tersendiri. Salah satunya masyarakat di sekitar kampus Universitas Negeri Semarang yang membentuk Pure Sickness Community. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Sekaran

Jika pada Rabu malam, kita berjalan melewati bundaran kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), biasanya akan terlihat orang berkumpul. Dandanannya khas. Sebagian besar memakai kaos hitam, berambut gondrong dan ada yang bertato di tubuhnya.
Anak-anak muda ini merupakan anggota komunitas musik metal Pure Sickness Community (PSC). Di tengah berkembangnya musik-musik pop melayu serta K-Pop, PSC tetap mempertahankan idealismenya sebagai penggemar musik rock underground.
Afif Novianto, 33, atau yang lebih akrab dipanggil ’Jembling’ adalah salah satu pentolan komunitas yang berdiri sejak 2001 ini. Komunitas yang memilih base camp di pinggir jalan depan bengkel motor Unnes ini masih tetap bertahan di jalur yang bisa dibilang ’minoritas’ di Kota Semarang ini. Tidak hanya sekadar nongkrong-nongkrong tak jelas, komunitas ini juga menyalurkan kreativitas mereka dalam bermusik. Antara lain menelurkan 2 album kompilasi bertajuk ’Metalic Academy I’ dan ’Metalic Academy II’.
Walaupun tidak terlalu dikomersialkan, setidaknya mereka ingin membuktikan bahwa idealisme bermusik hingga kini masih tetap hidup. Bahkan sekarang musik mereka mulai diterima kalangan anak muda khususnya di Kota Semarang. ”Memang tidak banyak yang menyukai musik kami, namun kami ingin menunjukkan bahwa musik yang ada di muka bumi ini heterogen, salah satunya adalah musik yang kami sukai ini,” kata Afif.
Hal tersebut dibuktikan dengan anggota komunitas yang beragam. Tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja, namun banyak dari mereka yang sudah berkeluarga.
Ajik, 37, misalnya, lelaki yang ikut memprakarsai berdirinya komunitas ini bertekad untuk terus menunjukkan eksistensi komunitas ini. ”Hingga kini saya masih mendengarkan musik-musik bising, dan bertekad untuk membawa komunitas ini menjadi sebuah komunitas besar yang di situ tidak ada unsur paksaan maupun penindasan,” kata bapak satu anak yang juga mengelola rumah makan di daerah Bandungan Kabupaten Semarang.
Komunitas yang kini beranggotakan 37 orang ini juga sering melakukan aksi sosial. Seperti bagi-bagi kaos hingga membagikan makanan gratis di pinggir jalan. Program bagi makanan gratis ini biasa disebut dengan aksi Food Not Bomb (FNB).
”Kita sebagai makhluk sosial juga harus memperhatikan kehidupan sosial di sekitar kita juga,” tambah Angga yang sekarang sibuk bekerja di sebuah bank swasta.
Menurut mereka, dari musik underground lah, pandangan tentang hidup mereka berubah. Selain bermusik, sebagian dari anggota komunitas ini juga sering terlibat dalam pembuatan Artwork musisi-musisi di jalur serupa. (*/ton/ce1)

Tinggalkan Komentar: