Selalu Izin Pemilik Tempat, Sasaran di Kampung Kumuh

39

Bring No Clan, Komunitas Street Art yang Anti Kotori Tempat Umum

Banyak komunitas street art di Kota Semarang. Namun Bring No Clan Street Art Community beda. Komunitas ini mengampanyekan street art yang sehat. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

KOMUNITAS street art identik dengan aksi kucing-kucingan dengan petugas keamanan, dan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Tapi, itu tidak berlaku bagi Bring No Clan Street Art Community. Komunitas ini merupakan gabungan dari beberapa komunitas street art di Kota Semarang yang memiliki visi dan misi sama, yakni mengampanyekan street art yang sehat (positif) agar dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Komunitas yang berdiri sejak 2010 ini bergelut di bidang seni rupa jalanan, seperti grafiti, mural, stensil, poster, dan lainnya.
Anggota komunitas ini sebagian besar kalangan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Semarang. Dalam setahun terakhir, sekumpulan anak muda kreatif ini kerap mengadakan life perform dengan tujuan lebih mengenalkan street art yang sehat ke masyarakat. Selain grafiti, komunitas ini juga terdiri atas para seniman mural.
Menurut pendiri Bring No Clan Street Art Community, Yapot Mudianto, mural atau lukisan dinding dapat menjadi media untuk menyampaikan sebuah pemikiran maupun melukiskan sebuah kondisi. ”Selain menyampaikan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat, seringkali kita juga mengkritisi pemerintah melalui street art ini,” katanya kepada Radar Semarang.
Ia menampik jika aktivitas street art itu mengotori kota, dan memiliki stigma negatif di masyarakat. ”Kita ini street art yang lebih condong ke grafiti, mural, dan seni-seni lukis lain. Bukan pemuda yang corat-coret tidak jelas,” tegasnya.
Yapot mengatakan, saat ingin melakukan aksi mural maupun grafitinya, ia dan teman-teman komunitasnya selalu melalui prosedur yang ada. ”Izin dari yang punya tempat harus kita dapatkan dulu. Minimal itu dulu. Kalau yang punya tempat tak ngizinin, ngapain kita harus memaksa?” tuturnya.
Komunitas yang kini anggotanya berjumlah lebih dari 30 pemuda ini mengaku lebih suka beraksi di kampung-kampung. ”Kalau di kampung itu enaknya pemerintah (Ketua RT/RW) dan warganya lebih kooperatif. Kebanyakan sasaran kita memang kampung-kampung yang kumuh. Dengan adanya karya dari komunitas kita, kita berharap kampung tersebut dapat lebih enak dipandang mata,” ujarnya.
Ia mencontohkan, sejumlah wilayah yang pernah dibuat event komunitas ini, di antaranya Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. ”Dulu kita bekerja sama dengan komunitas street art Kota Semarang yang lain membuat karya hampir di semua dinding di Kampung Bustaman,” katanya.
Ia menyayangkan, adanya Boomber (salah satu istilah dalam street art, Red) vandals yang dengan seenaknya mengotori tempat umum, di mana tempat tersebut dilarang untuk dicorat-coret. ”Itulah yang sebenarnya membuat street art itu di mata masyarakat memiliki stigma negatif. Padahal visi dan misi kita dan mereka (Boomber vandals, Red) berbeda,” ujarnya.
Yapot mengatakan, untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus, biasanya ia menghabiskan 1 hingga 2 lusin cat pilox. ”Semua biaya ditanggung oleh kita sendiri,” katanya.
Hingga saat ini, respons pemerintah terhadap komunitas street art yang ada di Kota Semarang, menurut Catur Hadi alias Cemod, memang bagus. ”Sekarang pemerintah sudah memberikan dan menyiapkan spot buat kita lukis. Antara lain di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS),” kata Catur yang juga salah satu anggota dari Bring No Clan Street Art Community.
”Kami membangun galeri kami sendiri di ruang publik, dan dinikmati oleh seluruh masyarakat bukan hanya penikmat seni. Selain di ruang publik, kita juga mulai eksplorasi ke media kanvas, tripleks, kayu, kotak karton, dan lain-lain,” tambahnya.
Menurutnya, dengan respons yang baik dari pemerintah tersebut dapat membuat semangat untuk berkarya menjadi lebih besar.
”Kami ingin membuktikan pada masyarakat luas bahwa street art yang selama ini dikenal dengan aksi vandalisme tidak hanya bisa melukis di tembok-tembok jalanan, tetapi juga bisa membuat karya yang lebih positif untuk dipamerkan,” kata Catur. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here