Olahraga Jateng Kembang-Kempis

179

SEMARANG – Olahraga Jateng sejatinya saat ini memasuki saat krusial, apabila ingin mengejar prestasi di PON 2016 mendatang. Sekarang ini seharusnya para atlet dari seluruh cabang olahraga menggembleng diri, karena 2015 mendatang babak kualifikasi PON 2016 akan dimulai. Babak kualifikasi atau pra PON itulah saat penting, karena menentukan kuota atlet Jateng yang akan bertarung membawa nama Jateng di PON 2016 yang akan berlangsung di Jawa Barat.
Namun yang terjadi, saat ini atlet-atlet Jateng tengah dalam masa sulit. Penyebabnya, tidak ada dana dari pemerintah untuk menyokong segala kegiatan mereka, mulai dana berlatih hingga bertanding, apalagi dana untuk menggelar kejuaraan. Kondisi ini sudah berlangsung hampir setengah tahun ini, yang diakibatnya anggaran dari hibah untuk kegiatan olahraga tidak bisa dicairkan.
Situasi sekarang ini jelas ironi dengan penerapan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional di mana disebutkan Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran keolahragaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Plt Ketua Umum KONI Jateng Hartono mengakui memang saat ini olahraga Jateng sedang ‘kembang-kempis’ alias ngos-ngosan. KONI Jateng, kata dia, sudah berusaha maksimal dengan merevisi pengajuan anggaran pembinaan prestasi olahraga, dengan harapan dana APBD bisa cair. “Tapi kenyataannya memang sulit. Kabarnya, KONI harus menunggu selesi Pilpres, baru dana kemungkinan akan cair. Ini jelas membuat semua insan olahraga di Jateng mengalami kesulitan luar biasa,” ujarnya.
KONI sendiri, sambung Hartono, akan mengundang seluruh pengprov pada pekan depan untuk menjelaskan kondisi olahraga Jateng, terkait dana. Apalagi saat ini pengprov cabor sedang menjalani pelatda. Diharapkan dengan pertemuan tersebut, pengprov bisa memahami kesulitan KONI. ‘”Tak hanya pengprov, kami pun dalam kondisi sulit. Kami pun khawatir kondisi ini bisa berdampak luas bagi pembinaan olahraga secara umum. Karenanya kami sarankan untuk bersabar dulu,” katanya.
Hartono mengakui, saat ini ada 188 atlet dan 34 pelatih yang menghuni pelatda. Bagi atlet dan pelatih yang terlibat even nasional, kata dia, tetap diberangkatkan dengan dana talangan atau pinjaman dari para pengurus inti KONI. “Jujur saja, sementara ini, pengurus menyokong kegiatan pembinaan olahraga dengan dana talangan. Ini sebagai komitmen, konsekuensi dan tanggung jawab kami sebagai pengurus KONI,” tandasnya.
Para atlet dan pelatih mulai mengeluhkan dana Pelatda jangka panjang yang sejak Januari hingga akhir Mei ini belum cair. Praktis belum turunnya dana pelatda tersebut, selain melemahkan semangat berlatih bagi atlet, juga membuat program pelatih menjadi berantakan. Sejumlah agenda try out dan mengikuti kejurnas tahun ini terancam batal.
Ketua Harian Pengprov FPTI Jateng Iping Purwadi mengakui, kontribusi dana pelatda dari KONI Jateng sangat berarti bagi kelangsungan pembinaan para atlet panjat tebing yang berobsesi mempertahankan perolehan enam medali emas seperti PON 2012 lalu di Riau. Dia khawatir, seretnya dana pelatda berdampak luas, misalnya semangat latihan dan ketidakpercayaan terhadap para pembinanya. “Anak-anak sudah mulai galau tentang dana pelatda yang sudah memasuki bulan kelima. Kami sudah konfirmasi ke KONI, katanya diminta bersabar,” kata Iping di Semarang, Jumat (30/5).
Sebagai cabang yang mendapatkan kuota 16 atlet, kata Iping, pihaknya sudah harus berpikir bagaimana menyiapkan atlet andalan yang masih berdaya saing di level PON kelak. Iping khawatir, jika kondisi ini berlarut-larut bisa mengancam peluang cabang tebing bisa mengulang sukses seperti PON Riau. Dan bukan tak mungkin, kata dia, efeknya tak cairnya dana pelatda bisa mengganggu persiapan Jateng secara keseluruhan di PON XIX 2016. “Bisa dibayangkan jika semua atlet pelatda mengalami nasib sama. Beberapa diantara atlet kami, bahkan sudah diincar provinsi lain,” ucapnya. (smu)

Tinggalkan Komentar: