Mantan Bupati Tegal Ajukan PK

172

MANYARAN – Mantan Bupati Tegal periode 2004-2005 dan 2009-2014, Agus Riyanto Jumat (30/5) mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) melalui pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang. PK diajukan atas vonis bersalah terkait kasus korupsi proyek pembangunan Jalan Lingkar Kota Slawi (Jalingkos) Tegal 2006-2007 senilai Rp 3,955 miliar.
Didampingi penasihat hukumnya Tri Buana Dewi, Agus datang sekitar pukul 10.00. Mereka diterima oleh Panitera Muda Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Tipikor Semarang. Berkas PK Agus bernomor 04/PK/Pid.Sus-TPK/2014/Pn.Tipikor Semarang.
Ditemui usai mengajukan PK, Agus mengatakan bahwa apa yang dilakukannya merupakan hak atas upaya hukumnya. Setelah mendengar beberapa saran dari berbagai pihak, ditemukan beberapa novum (bukti baru) yang dapat dijadikan dasar. ”Ada tiga novum yang kami ajukan,” ungkapnya kepada Radar Semarang, kemarin.
Disinggung mengenai isi ketiga novum tersebut, mantan orang nomor satu di Tegal itu menegaskan bahwa dari awal penanganan perkaranya terdapat banyak keganjilan. Menurutnya, hal tersebut disebabkan adanya beban psikologis dari euforia pemberantasan tindak pidana korupsi. ”Ketika kasus tambah kasus, saya telah berusaha menenangkan diri,” imbuhnya.
Ditambahkan, dari dakwaan yang disampaikan jaksa menyatakan ia didakwa turut serta melakukan korupsi. Jika memang demikian, maka mengikuti terdakwa sebelumnya. Padahal kerugian negara berbeda. ”Ini aneh dan keanehan itu baru disadari. Ini yang bisa dijadikan novum,” ungkapnya.
Belum lagi fakta di persidangan atas keputusan Edy Prayitno, mantan Kepala Bagian Agraria Sekretariat Daerah Tegal periode 2006-2007 yang tidak dijadikan data oleh jaksa. Menurut Agus, pernyataan Edy berbeda dengan apa yang diungkapkannya di Pengadilan Slawi. ”Saat di penyidikan, Edy mengatakan uang untuk A. Tapi saat sidang mengaku untuk saya. Fakta hukum di Slawi ini tidak dihadirkan. Novum saya, hanya ingin membuktikan fakta hukum di Slawi,” bebernya.
Seperti diketahui, Agus Riyanto diduga menyimpangkan dana proyek Jalingkos senilai Rp 3,955 miliar, terdiri atas Rp 1,7 miliar dari APBD Tegal 2006 dan Rp 2,2 miliar dari pinjaman Bank Jateng. Dana tersebut digunakan untuk kepentingan Bupati Tegal, antara lain modal di perusahaan PT Kolaka senilai Rp 3,4 miliar serta pembelian rumah mewah di Cipularang, Bandung senilai Rp 230 juta.
Agus Riyanto divonis pidana 5,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang. Vonis majelis hakim tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah selama 8 tahun penjara.
Selain hukuman kurungan, Agus juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 200 juta dengan hukuman pengganti selama 1 tahun penjara, serta diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp 1,4 miliar dan jika dalam waktu 1 bulan setelah putusan hakim berkekuatan hukum tetap tidak bisa membayar maka ia akan dipenjara selama 3 tahun.
Di tingkat banding. Pengadilan Tinggi Tipikor menghukum Agus Riyanto dengan pidana penjara selama 3 tahun dan denda dari semula Rp 200 juta menjadi Rp 150 juta, setara dengan 6 bulan kurungan. PT Tipikor menghapus uang pengganti kerugian negara yang harus dibayar Agus. Namun di tingkat kasasi, putusan MA tidak berbeda dengan keputusan Pengadilan Tipikor Semarang yang menyatakan Agus terbukti terlibat tindak pidana korupsi. Dia dijatuhi vonis 5,5 tahun penjara dengan denda sebesar Rp 200 juta dan uang pengganti (UP) kerugian negara senilai Rp 1,4 miliar subsider 1 tahun kurungan. (fai/ton/ce1)

Tinggalkan Komentar: