Kepsek dan Wali Kelas Dicopot

11

Penganiayaan Bocah hingga Tewas

SUKOHARJO–Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Sukoharjo bertindak tegas menyikapi kasus penganiayaan berujung maut yang menimpa Fajar Murdiyanto,12, bocah kelas V SDN Klumprit 1, Kecamatan Mojolaban. Kepala sekolah (kepsek), Sri Kamtyasrini, dinonaktifkan dari jabatannya. Sedangkan Sri Mulyani, wali kelas V turut dipindahtugaskan.
Kepala Dinas Pendidikan Sukoharjo, Bambang Sutrisno menyatakan, pihaknya menemukan unsur kelalaian kepala sekolah dan wali kelas dalam mengawasi perkembangan tingkah laku anak didiknya. Menurut dia, kasus tersebut kemungkinan tidak akan terjadi apabila fungsi pengawasan dilaksanakan dengan baik dan benar. Sehingga, Dispendik menjatuhkan sanksi kepada kepala sekolah dan wali kelas. “Kepala sekolah dinonaktifkan dan menjadi guru pengajar. Dia jadi guru biasa di wilayah Mojolaban,” ujar Bambang, kemarin (30/5).
Selain kepala sekolah, kasus penganiayaan yang menewaskan anak ketiga pasangan Cipto Wiyono-Waginem warga Dukuhan RT 2 RW XI, Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban itu berimbas pada nasib wali kelas V, Sri Mulyani. Mengingat, wali kelas mempunyai tanggung jawab besar dalam mengawasi anak didiknya. “Wali kelas juga dimutasi ke sekolah lain dan masih di wilayah Mojolaban,” kata Bambang.
Ditegaskannya, Dispendik menjatuhkan sanksi untuk memberi cambuk terhadap semua kepala sekolah dan guru. Dengan harapan, kejadian serupa tidak terulang lagi. “Ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami terhadap kasus yang sudah terjadi di sekolah tersebut,” tandasnya.
Masih menurut Bambang, berkas penonaktifan kepsek SDN Klumprit I dan mutasi wali kelas rencananya diserahkan ke Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, Jumat (30/5). Namun karena alasan tertentu, berkas itu baru akan dikirim Senin (2/6). Yang jelas untuk menjaga kondusivitas, kepala sekolah dan wali kelas dipastikan dipindah tugas dari sekolah tersebut.
Diketahui, Fajar Murdiyanto, siswa kelas V SDN Klumprit 1, Kecamatan Mojolaban meregang nyawa setelah beberapa hari mendapat perawatan medis di rumah sakit. Diduga, korban mengalami penganiayaan oleh rekan sekelasnya NV hingga menyebabkan pembengkakan otak. Tersangka tidak ditahan lantaran masih di bawah umur. Hasil pemeriksaan, diduga tersangka telah melakukan pemukulan terhadap korban hingga berkali-kali. Sementara, dua siswa lain IM dan FZ, masih berstatus saksi.
Pada kesempatan sebelumnya, Kapolres Sukoharjo AKBP Andy Rifai menerangkan, penetapan tersangka NV berdasarkan bukti dan keterangan saksi-saksi. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sudah memeriksa tersangka, teman korban, dan saksi-saksi lain. Termasuk meminta keterangan dari guru dan kepala sekolah SDN Klumprit 1, tempat korban bersekolah. “Pelaku NV sudah ditetapkan sebagai tersangka,” tutur kapolres. (sof/mas/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here