Harga Sembako Naik Drastis, Pedagang Resah

24

KENDAL—Harga sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako) sejumlah pasar tradisional di Kendal mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan paling mencolok adalah harga minyak goreng dan telur. Kenaikan harga juga terjadi pada beras, yakni rata–rata sekitar Rp 500-1.000 perkilogram.
Salah seorang pedagang sembako, Kristina, mengatakan bahwa pasokan beras dari distributor sampai saat ini masih lancar. “Tidak tahu kenapa naik, dari distributor naik, jadi kami pedagang harus menaikkan harganya, karena tidak mau merugi,” ujarnya, kemarin.
Kenaikan harga beras terjadi pada seluruh jenis beras. Rata-rata harga beras perkilogram Rp 9.000, kini para pedagang menjual dengan harga Rp 9.500-10.000. Harga telor yang semula harga perkilogramnya Rp 18 ribu sejak dua minggu terakhir ini, naik Rp 2.000 menjadi Rp 20 ribu.
Kenaikan juga terjadi pada harga gula pasir, dari Rp 10 ribu menjadi Rp 11 ribu. Minyak goreng semula Rp 10 ribu perkilogram, kini menjadi Rp 13 ribu. Sedangkan, minyak goreng kemasan, harga perkilogramnya Rp 13-15 ribu kini menjadi, Rp 15-17 ribu. Harga gula merah, semula perkilogram Rp 16 ribu menjadi Rp 18 ribu.
“Kenaikan harga sembako ini terjadi sejak pertengahan bulan Mei ini. Kemungkinan akan terus mengalami kenaikan hingga Lebaran mendatang. Sebab biasanya menjelang puasa dan Lebaran, harga sembako memang mengalami kenaikan,” tandasnya.
Salah seorang pembeli, Ruslina, mengaku mengeluhkan harga sembako yang naik drastis ini. Menurutnya, pemerintah perlu turun ke lapangan untuk mengantisipasi kenaikan harga sembako sehingga tidak memberatkan masyarakat.
“Harga sembako naik, tapi pendapatan warga tidak naik. Ini akan menjadi masalah. Jadi pemerintah perlu melakukan pengawasan terhadap para pedagang dan distributor. Sehingga harga tidak asal dinaikkan,” tandasnya.
Hal senada dikatakan Selamet, salah satu pedagang ayam, bebek, lele dan tempe penyet. Diakuinya, dengan kenaikan harga, mengurangi keuntungannya. Sebab, dia selaku pedagang tidak dapat langsung menaikkan harga.
“Saya jual dengan harga biasanya, jadi untung sedikit. Kalau saya menaikkan harganya, pembeli malah kabur dan protes semua,” keluhnya. (bud/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here