33 Desa Rawan Krisis Air

172

KLATEN-Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau akan lebih panjang langsung direspons Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten. Terutama dalam menambah amunisi untuk mengatasi krisis air bersih di tujuh kecamatan yang sudah menjadi langganan saat musim kemarau.
Kepala BPBD Klaten, Sri Winoto mengatakan, sebelumnya dalam APBD sudah dianggarkan Rp 300 juta untuk mengatasi krisis air pada musim kemarau. Namun setelah mendapat informasi bahwa musim kemarau diprediksikan akan lebih panjang, maka pada APBD perubahan 2014 pihaknya mengajukan tambahan dana.
“Kami meminta tambahan Rp 200 juta, sehingga jika disetujui maka anggaran untuk mengatasi krisis air Rp 500 juta. Dana ini biasanya digunakan untuk operasional droping air ke lokasi yang mengalami krisis air bersih,” ujarnya.
Dia menjelaskan, jika mengacu pada tahun sebelumnya di Klaten ada 33 desa yang menjadi daerah rawan krisis air bersih. Desa tersebut berada di tujuh kecamatan. Meliputi Kemalang, Manisrenggo, Karangnongko, Jatinom, Tulung, Bayat dan Cawas.
“Jadi dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang, maka akan membutuhkan dana yang lebih besar dibanding musim kemarau biasanya. Kami berharap usulan agar tambahan dana untuk mengatasi krisis air bersih dapat disetujui tim anggaran pemkab dan badan anggaran DPRD,” ungkapnya.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah rawan tersebut. Misalnya pembuatan sumur dalam, pencarian sumber air kemudian menyalurkan ke bak penampungan air yang ada di warga. Namun upaya tersebut tidak dapat dilakukan di semua daerah yang mengalami krisis air bersih.(oh/bun/ida)

Tinggalkan Komentar: