WONOSOBO – Tradisi menarik ditanamkan oleh warga Desa Laranganlor, Kecamatan Garung, Wonosobo. Menjelang musim pembayaran pajak, mereka menggelar pecah bumbung. Warga mengeluarkan semua bumbung (celengan dari bambu) yang berisi uang tabungan, kemudian dipecah bersama. Uang itu digunakan untuk melunasi pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB).
Tradisi pecah bumbung ini, prosesnya cukup panjang. Ratusan warga, sejak pagi keluar rumah. Satu per satu, warga menuju ke lapangan desa. Semua kalangan dari anak-anak, remaja hingga lanjut usia, terlibat dalam acara itu.
Selain membawa bumbung, kalangan perempuan membawa bucu (nasi) megono, yang dipadukan dengan tempe kemul. Setelah semua berkumpul, mereka menggelar pawai keliling desa, diiringi berbagai kelompok kesenian, dimulai dari warokan, kuda kepang, rebana, hingga tek-tek bambu.
Barisan panjang pawai itu, bermuara di tengah-tengah desa. Di lokasi itu, telah berdiri panggung. Sedangkan warga menggelar tikar di sepanjang jalan kampung, sambil membawa daun pisang.
Dipimpin oleh Wakil Bupati Wonosobo Maya Rosida, warga mengangkat bumbung. Setelah itu, bersama-sama, warga membanting bumbung hingga pecah. Uang tabungan dalam bumbung, diambil langsung dan disetorkan kepada perangkat desa untuk pembayaran PBB.
Menurut Kepala Desa Laranganlor, Budi Handoyo, pecah bumbung merupakan tradisi lama yang sudah berkembang di masyarakat, sejak zaman leluhur. Namun, belakangan tradisi ini luntur. Sehingga dua tahun terakhir ini, mulai digalakkan lagi.
“Dulu waktu mbah saya jadi kades, ada tradisi ini. Saat ini kami kembangkan lagi karena mempunyai manfaat besar,” kata Budi yang baru menjabat kades dua tahun ini.
Budi menuturkan, dengan kebiasaan mempunyai bumbung sebagai tabungan, masyarakat akan mampu mengatur beban keluarga. Terutama dalam pembayaran PBB. “Pecah bumbung ini, hasilnya khusus untuk bayar PBB, kalau sisa, baru dipakai untuk kebutuhan lain.”
Dikatakan, program ini berdampak sangat baik. Terbukti, selama dua tahun ini, penyetoran PBB dari desanya tidak pernah terlambat. Jumlah beban yang harus dibayar tiap tahun Rp 30.500.000, mampu dibayar dengan cepat. Bahkan meraih ranking 3 di Kecamatan Garung, dengan penyetoran PBB  paling cepat lunas.
“Kami targetkan tahun depan bisa meraih ranking satu tingkat kabupaten,” ujarnya.
Wakil Bupati Wonosobo Maya Rosida mengatakan, budaya menabung seperti yang dilakukan warga Laranganlor, mempunyai nilai positif. Selain memberikan dampak kepada warga mengelola keuangan, juga mempunyai imbas terhadap generasi penerus.
“Kegiatan positif lagi, bumbung yang digunakan menabung, dirias dan dilombakan seperti saat ini, desainnya keren-keren,” sarannya. (*/lis)