Membela Diri, Lolos dari Hukum

128

Kasus Perampas
Motor Tewas

BARUSARI — Aparat Reskrim Polrestabes Semarang masih menelusuri empat korban perampasan yang membela diri hingga salah satu pelaku, Zhonathan Ivanqhow, 19, warga Jalan Dworowati VI RT 1 RW 9 Kelurahan Krobokan, Semarang Barat tewas. Dari keterangan rekan Ivan –sapaan akrab Zhonathan—keempat korban mengendarai motor jenis matic, yakni Yamaha Mio J dan Honda Scoopy. ”Hanya tahu jika motornya matic. Soalnya, saya langsung lari setelah mereka merampas senjata tajam yang kami bawa,” kata rekan Ivan, yakni Riko Putra Aji, 19, warga Krobokan, Semarang Barat.

Riko dan dua temannya yang selamat juga tidak mengetahui pasti postur keempat korban yang nyaris dirampasnya. ”Kondisinya gelap, jadi tidak lihat,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto mengatakan, pihaknya masih terus mengupayakan mencari keberadaan keempat korban perampasan. Menurutnya, keterangan mereka sangat dibutuhkan, karena sampai saat ini pihaknya baru mendapatkan keterangan dari rekan-rekan Ivan. ”Kami masih cari korbannya. Saya kira korbannya juga mengalami luka-luka. Dari pengakuan teman Ivan, termasuk yang masih dirawat di rumah sakit, mereka lupa ciri-ciri korbannya dan juga sepeda motor korban,” katanya.
Wika menyebutkan, proses hukum terkait insiden tersebut akan terus berjalan. Terkait pembelaan yang dilakukan oleh keempat korban perampasan juga masih diperlukan bukti-bukti. ”Yang jelas dari pengakuan rekan Ivan, saat itu mereka memang bertujuan untuk merampas. Tapi, ternyata korban melakukan perlawanan. Ivan dan rekan-rekannya juga dalam kondisi mabuk. Sekarang saja yang di rumah sakit itu lupa apa yang terjadi dan siapa korbannya saat itu,” jelasnya.
Berbeda dengan Wika, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono justru mengatakan, keempat korban perampasan tidak dikenakan sanksi hukum. Sebab, dalam peristiwa tersebut, mereka dinilai melakukan pembelaan diri dari ancaman tindak kejahatan. ”Korban (perampasan) tidak dikenakan sanksi hukum, karena melakukan pembelaan diri,” katanya, Selasa (27/5).
Diakui, hingga kemarin belum semuanya dimintai keterangan. Pasalnya, polisi masih melakukan pencarian terhadap keempat korban perampasan yang melakukan pembelaan tersebut. ”Sejauh ini belum dilakukan pemeriksaan terhadap korban,” ungkapnya.
Saat disinggung apakah keempat korban perampasan yang melakukan pembelaan diri dan menggagalkan tindak kejahatan tersebut nantinya akan diberi penghargaan, Djihartono mengungkapkan jika pihaknya masih akan membicarakan hal tersebut. ”Kami akan bicarakan terlebih dahulu mengenai penghargaan kepada masyarakat yang membantu menggagalkan tindak kejahatan. Yang jelas kami mengapresiasi,” katanya.
Terpisah, kriminolog dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Budi Wisaksono, saat dihibungi via telepon mengatakan bahwa kasus yang terjadi pada Senin (26/5) dini hari tersebut terbilang cukup rumit. Namun ia menjelaskan jika dalam hukum pidana, korban yang melakukan pembelaan terpaksa hingga mengakibatkan pelaku kejahatan meninggal tidak dikenai sanksi hukum. Akan tetapi, hal itu juga harus dibuktikan, apakah korban itu melakukan pembelaan dengan terpaksa karena memang tidak dapat melakukan tindakan apa-apa selain membunuh pelaku.
”Kalau bisa dibuktikan bahwa korban merebut senjata itu dari tangan penjahat dan membela diri karena terancam akan mati. Sebab, melawan tidak harus dengan membunuh, tapi cukup melumpuhkannya dan itu banyak cara. Kalau hal itu tidak dapat dibuktikan dan sebenarnya ada kesempatan atau cara lain untuk melumpuhkan, korban bisa dikenai pidana. Singkatnya korban tidak dipidana jika membunuh pelaku adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dari ancaman,” jelasnya.
Untuk itu, lanjut Budi, pihak kepolisian harus jeli dalam menggali informasi terkait kasus tersebut. Penyidik harus bisa mencari alat bukti yang dapat digunakan sebagai penguat kalau korban yang membunuh pelaku kejahatan tersebut memang terancam keselamatannya.
”Ini tugas polisi. Mereka harus bisa memberikan bukti kuat bahwa penjahat yang kemudian tewas itu memang hendak melakukan tindak kriminalitas. Jangan sampai seperti kasus dua pelaku penjambretan di Tanah Putih yang bebas itu,” tukasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pelaku perampasan motor menjadi bulan-bulanan korbannya hingga tewas. Perampas motor nahas itu diketahui bernama Zhonathan Ivanqhow, 19, warga Jalan Dworowati VI RT 1 RW 9 Kelurahan, Krobokan, Semarang Barat. Ia ditemukan tewas berlumuran darah di Jalan Pawiyatan Luhur, dekat gerbang keluar kampus Unika Soegijapranata, Bendan Dhuwur, Semarang, Senin (26/5) dini hari sekitar pukul 01.45. Setidaknya 19 luka bacokan bersarang di tubuh pemuda apes tersebut. Sedangkan tiga temannya berhasil kabur, meski akhirnya berhasil ditangkap polisi selang beberapa jam kemudian. (fth/har/aro/ce1)