Korban Terus Bertambah

99

SEMARANG – Korban dugaan penipuan dengan modus investasi batik terus bertambah. Polrestabes Semarang kembali menerima laporan terkait kasus tersebut. Terbaru berasal dari pasangan suami-istri (pasutri) asal Jogjakarta yang mengaku telah menjadi korban penipuan dengan terlapor R, 38, seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Semarang.
Pasutri yang melapor tersebut diketahui bernama Agung, 42, dan Isna, 40. Keduanya melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, Kamis (29/5) siang. Dalam laporannya, pasutri tersebut juga melaporkan seseorang berinisial D, 40, yang diduga terlibat dalam aksi penipuan tersebut.
Korban mengaku jika modus yang digunakan R adalah menawarkan bisnis investasi pengadaan batik untuk tingkat SD hingga SMA. Dalam penawaran tersebut, terlapor menjanjikan keuntungan setiap bulannya. Selain itu, terlapor juga mengungkapkan akan mengembalikan modal yang dikembalikan setelah kesepakatan kerja sama berakhir.
”Tertarik dengan tawaran itu, saya langsung berinvestasi sebesar Rp 570 juta. Kesepakatan antara saya dan dia (R, Red) terjalin satu tahun. Mulai Oktober 2012 dan berakhir pada Desember 2013,” ujar korban saat melapor.
Dikatakannya, sejak bergabung pada Oktober 2012 itu, terlapor lancar memberikan uang keuntungan seperti yang dijanjikan. Hal itu berlangsung hingga November 2013. Kemudian pada Desember 2013 terlapor tidak lagi memberi uang keuntungan dan modal yang dijanjikan akan dikembalikan juga urung dilakukan. ”Harusnya sesuai kesepakatan pada akhir kerja sama, uang modal akan dikembalikan. Tapi sampai sekarang tidak dilakukan,” katanya.
Sementara itu, terkait perkenalannya dengan terlapor, pasutri yang juga pengusaha tersebut mengaku dikenalkan oleh kakak dari terlapor D. ”Kakak D itu teman saya. Kalau D sendiri perannya sebagai pengelola saham bersama R. D juga yang selalu meyakinkan kami tentang apa yang disampaikan R saat presentasi. Saya juga pernah diajak ke Semarang dan diperlihatkan tumpukan batik yang akan dialokasikan ke sekolah-sekolah,” ungkap Isna. 
Selain Isna dan suaminya, diduga masih banyak korban lain yang berasal dari Jogjakarta. Jumlahnya pun tidak sedikit, yakni mencapai ratuasan orang dengan kerugian per orang di atas Rp 500 juta. Informasi lain menyebutkan bahwa praktik penipuan tersebut masih terus berlangsung kendati R sudah dilaporkan oleh beberapa korban ke polisi.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang,AKBP Wika Hardianto, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terkait laporan korban. ”Masih dalam pengembangan. Kasus ini akan kami tangani secara profesional hingga terungkap,” katanya. (hid/har/jpnn//ida/ce1)