Hasil Silang Bibit Thailand, Panen Bisa Diprogram

97

Melihat Program Wisata Kelengkeng Borobudur

Petani buah kelengkeng, biasanya hanya memanen setahun sekali. Namun, di Borobudur, panen bisa berlangsung sewaktu-waktu, sesuai keinginan. Ke depan, budidaya ini akan dijadikan wisata.

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

SEPETAK kebun kelengkeng di Dusun Sabrangrowo, Desa/Kecamatan Borobudur itu, terus saja berbuah. Setiap satu pohon habis dipanen, pohon lain siap menyusul dipetik.
Jadi, hampir setiap bulan bisa dipastikan ada kelengkeng yang bisa dipanen. Karenanya, si empunya lahan, tak perlu menunggu musim kelengkeng untuk menikmati buahnya. Salah satunya, hasil kelengkeng budidaya seorang warga bernama Isto Suwarno.
Lahan kelengkeng milik Ito termasuk istimewa. Buahnya besar-besar. Dagingnya tebal, bijinya kecil. Soal rasa coba saja: pasti manis.   
Ya, Isto Suwarno, merupakan mantan karyawan PT Taman Wisata Candi Borobudur. Ia membudidayakan kelengkeng untuk keperluan bisnis. Ia juga memandang ada potensi wisata di sana.
Kelengkeng Borobudur, merupakan kelengkeng unggul asal Thailand yang sudah disilang dengan kelengkeng lokal Indonesia berkualitas. Penggunaan nama Borobudur, karena kelengkeng ini tumbuh luar biasa cepat di tanah Borobudur.

”Saya menanam di Prambanan dan Ambarawa, namun tak ada yang pertumbuhannya secepat di Borobudur. Perbandingannya, 1 banding 3. Jadi, karakteristik tanah Borobudur sangat cocok dengan kelengkeng ini,” kata Isto di kebun kelengkeng Borobudur.
Menurut Isto, satu pohon usia 2,5 tahun, bisa menghasilkan sekitar 40 kg. “Kalau sudah dewasa, hasil panen buah bisa mencapai 75 kg per pohon per sekali masa panen. Ini tentu akan menjadi pemberdayaan yang luar biasa. Wisatawan Borobudur juga lebih kerasan,” ujar Isto, yang pensiun pada 2009 silam itu.
Namun, yang paling menarik dari kelengkeng ini, bisa diatur kapan berbuah. Caranya, dengan diberikan nutrisi khusus yang dicampur air 10 liter dan disiramkan ke sekitar pohon. Biasanya, 45 hari kemudian akan mulai berbunga; dan empat bulan kemudian bisa dipanen.
“Jika 1 Januari diberi nutrisi, maka 1 Juni bisa dipanen. Kita bisa bikin paket petik buah segar sehingga lebih menarik wisatawan. Jika lahan kosong di sekitar Borobudur ditanami, tentu manfaat yang diterima masyarakat akan luar biasa. Ini pemberdayaan ekonomi,” kata Isto.
Ke depan, dia berharap kebun ini bisa menginspirasi masyarakat, sehingga ada gerakan bersama untuk membuat kebun kelengkeng itoh Borobudur.

Isto menjelaskan, kunci dari pengembangan kelengkeng itoh Borobudur adalah perawatan. “Asal dirawat dengan baik, kelengkeng ini akan berbuah dengan baik. Cita-cita saya adalah kelengkeng ini bisa menjadi identitas dan unggulan baru pariwisata Borobudur. (*/lis)

Tinggalkan Komentar: