GUBERNURAN — Rencana groundbreaking pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang kembali tidak jelas. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menganggap pemerintah pusat sangat lamban dalam berkoordinasi untuk menentukan waktu pembangunan.
Ganjar mengaku tidak sabar karena sudah berkali-kali rencana groundbreaking untuk pengembangan dan perluasan bandara itu terus molor. ”Saya minta segera groundbreaking kok nggak jalan–jalan ini. Saya mulai agak anget-anget dikit. Saya kemarin ngomong sama Menko (Menteri Perekonomian), saya bicara sama Menteri Perhubungan, dan Menteri Perhubungan coba merespons. Menurut saya sudah kelamaan. Telatnya sudah satu bulan lebih,” keluhnya.
Perluasan dan pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang memang mendesak dilakukan mengingat kondisinya saat ini. Selain tidak mampu menampung pesawat dalam jumlah banyak, apron di bandara ini juga sempat ambles. Perluasan dan pengembangannya akan sangat membantu provinsi Jateng khususnya Kota Semarang dalam sektor perekonomian hingga pariwisata. Karenanya dia meminta permasalahan administrasi segera diselesaikan pemerintah pusat. ”Kalau ada problem administrasi antara Kementerian Keuangan dan Angkasa Pura ya segera dikebut,” katanya.
Groundbreaking  di tanah milik Kementerian Pertahanan itu sempat terganjal revisi Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6. Saat Wapres Boediono meninjau bandara itu pada April lalu, Ganjar mengatakan groundbreaking bandara bisa dilakukan sebelum Mei. Pengembangan Bandara sebenarnya mencapai titik terang menyusul terbitnya surat dari Kementerian Keuangan pada 21 Februari 2014. Ini berkaitan dengan jumlah penerimaan negara dan pemanfaatan aset. Namun hingga kini waktu groundbreaking belum ditentukan.
Plt Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mengatakan, selain groundbreaking agar cepat dilakukan, pemerintah patut memikirkan alternatif jangka panjang pemindahan bandara 20 tahun ke depan. Alternatif wilayah pemindahan bandara, kata Rukma, bisa dibangun di Kendal melihat berbagai pertimbangan. Di antaranya lokasi itu tidak jauh dari Terminal Mangkang Semarang yang merupakan terminal besar, didukung Pelabuhan Kendal, dan sudah ada double track rel kereta api (KA).
”Juga ada rencana pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang. Jika bandara dibangun di Kendal, bisa jadi satu lokasi yang terpadu. Seperti Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara, atau Bandara Narita yang dipindah dari Tokyo, Jepang. Jadi bukan tidak mungkin bisa mencontoh itu,” tandasnya. (ric/aro/ce1)