Bikin Gitar Model Baru, Harga Termurah Rp 4 Juta

100

Slamet Joko Santoso, Perajin Gitar Asal Ambarawa yang Produknya Sudah Mendunia

Kemampuannya bermain musik petik menjadi berkah bagi Slamet Joko Santoso. Sebab, dari bermain musik itulah, Joko menjadi terampil membuat dan memperbaiki alat musik petik mulai gitar, bass, celo hingga alat musik gesek, biola.

PRISTYONO HARTANTO, Ambarawa

BENGKEL kerja Slamet Joko Santoso tak terlalu luas. Ukurannya hanya 3 meter x 4 meter. Pria yang akrab disapa Ook itu memang hanya menempati kios di kompleks UKM Centre Goa Maria Kerep, Kelurahan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Namun siapa sangka, dari kios sempit itu, pria 35 tahun ini mampu membuat alat musik petik pesanan dari pemusik lokal maupun mancanegara.
Saat Radar Semarang datang ke bengkel kerjanya Ook sedang sibuk mengerjakan gitar bertipe true temperament fret. Dengan telaten, Ook membentuk grip gitar dengan tidak beraturan seperti grip gitar pada umumnya. Untuk membentuknya dilakukan secara manual, sehingga butuh ketelatenan dan butuh waktu lama. Tak heran, gitar-gitar tersebut harganya cukup mahal.
Ternyata grip gitar tipe true temperament fret berbeda dari gitar pada umumnya yang lurus. Pada grip gitar true temperament fret bentuknya tak beraturan. Kendati tak beraturan, menurut Ook, gitar tipe itu lebih sempurna suaranya dibanding gitar pada umumnya dengan grip yang lurus.
”Grip model yang aneh seperti ini justru lebih sempurna suaranya. Sebab ahli musik sudah melakukan riset dan ditemukan intonasi yang tepat. Saat ini sedang ngetren dan berkembang di dunia barat dengan sebutan gitar true temperament fret. Banyak pesanan yang datang ke sini dari Jakarta bahkan dari luar negeri,” kata Ook kepada Radar Semarang.
Selain memproduksi gitar akustik dan elektrik dengan tipe biasa, Ook juga mengerjakan gitar true temperament fret. Gitar-gitar buatan Ook sudah dijual di sejumlah negara, seperti sebagian Eropa, Amerika, Australia, dan Singapura. 
Menurut Ook, usaha kerajinan gitar itu sudah berjalan sejak lima tahun lalu dengan label AVR. Ook juga membuat alat musik petik lainnya, seperti Celo dan Bass, bahkan juga membuat musik gesek berupa biola.
”Tidak hanya pemusik lokal saja, banyak juga di Eropa, Amerika dan Singapura yang memesan gitar ini. Bahkan orang di Indonesia masih jarang yang memakai gitar seperti ini (true temperament fret). Gitar jenis ini harga terendah di kisaran Rp 4 juta-Rp 8 juta per buah, tergantung dari model dan spesifikasinya. Karena prosesnya manual, sebulan hanya mampu memproduksi 10 buah gitar,” ujar Ook.
Menurut Ook, produksinya saat ini masih terbatas. Sehari hanya mampu mengerjakan beberapa gitar saja. Hal itu disebabkan lantaran terbatasnya bahan baku, modal, dan tenaga kerja serta bengkel kerja yang terbatas. Untuk tenaga kerja, Ook merasa kesulitan. Sebab, tidak gampang mencari orang yang mampu mengerjakan alat-alat musik. Untuk menjadikan karyawan yang mahir, butuh proses selama kurang lebih dua tahun agar dapat memahami soal alat musik. Saat ini di bengkel kerjanya baru ada empat karyawan untuk mengerjakan pesanan gitar.
”Yang masih menjadi kendala kami adalah modal, sebab dibutuhkan mesin-mesin perkayuan yang harganya tidak murah. Selain itu lokasi kerja masih sempit,” ungkapnya.
Selama ini, proses produksinya dilakukan dengan cara manual. Menurut Ook, dengan memproduksi secara manual, hasilnya akan lebih bagus. Empat orang karyawannya bekerja sesuai kemampuannya, seperti membentuk gitar, menghaluskan, dan proses finishing. 

Ook juga mengaku kesulitan bahan baku. Sebab, selama ini bahan baku gitar masih banyak didatangkan dari luar negeri, seperti kayu jenis Mapel, Siprus, Ash, dan Alder. Tak ayal, harga bahan baku dari luar negeri itulah yang membuat harganya jadi mahal. Namun sebagian bahan baku didapatkan dari kawasan Temanggung dan Kabupaten Semarang, seperti Mahoni dan Sonokeling.
Menurut Ook, kemampuannya membuat gitar berawal dari hobi bermain musik sejak duduk di SMP Pangudi Luhur Ambarawa. Instingnya semakin terlatih, sehingga Joko pun mampu membuat berbagai jenis alat musik petik utamanya gitar. Bahkan gitar produksinya tergolong unik seperti ada gitar berukir dan ada juga celo hias. ”Saya berharap pemerintah juga memperhatikan para pelaku usaha kerajinan, sehingga bisa berkembang kualitas produk maupun omzet penjualannya,” harapnya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN
Berita sebelumyaWAJIB MENANG
Berita berikutnyaOptimistis Lolos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here