Berjaya di 70-an, Regenerasi via Anak Cucu

29

Teater Hay Temanggung, Riwayatmu Kini

Nama Teater Hay pernah berkibar di era 1970-an. Kejayaan kelompok seni lintas bidang ini bahkan sampai tingkat nasional. Namun, sejak 1980-an, kejayaan berangsur surut. Kini, para anggotanya tengah menyiapkan generasi melalui anak dan cucu.
 
ABAZ ZAHROTIEN, Temanggung
 
BAGI pemuda Temanggung saat ini, sudah pasti asing mengenal nama Teater Hay. Padahal, dedengkot teater ini bukan orang sembarangan.
Agus Marshall, misalnya. Ia gitaris yang melegenda di kabupaten penghasil tembakau ini. Agus boleh disebut sang maestro gitar. Meski namanya terkenal, tidak banyak yang tahu, kemampuan Agus memetik senar, justru diasah di Teater Hay.
Tidak hanya Agus Marshall. Banyak para aktivis Teater Hay yang juga dikenal masyarakat. Tentu, tanpa mengenal bahwa mereka sebelumnya berkecimpung di Teater Hay. Sebutlah nama seperti Agus Prasetyo, Bambang Doni, dan Bambang Diaz. Juga sederet nama pejabat Pemkab Temanggung yang sebelumnya bergabung di Teater Hay.
Teater Hay, terbentuk pada 1970-an. Kelompok teater ini lahir dari sebuah komunitas seni di SMA 1 Temanggung. Anggota komunitas ini, ketika itu, menilai perlunya membuat wadah bersama yang menampung berbagai kesenian. Utamanya, musik kontemporer.
Melihat kebutuhan tersebut, sejumlah seniman menggagasnya menjadi Teater Hay. Maka, jadilah Teater Hay sebagai rumah bersama.
“Saat itu, kami semua sering belajar musik. Markasnya di rumah saya di Jalan MT Haryono, Pandean. Kami belajar musik bersama, belajar seni peran dan bidang seni yang lainnya,” kata Edy Riyanto, 55, salah satu penggagas komunitas ini.
Berawal dari komunitas tersebut—serta keaktifan para anggotanya untuk memopulerkan nama Teater Hay—jadilah komunitas ini terbilang elite pada eranya.
Kerapnya pentas dan menjuarai berbagai festival kesenian, membuat Teater Hay menjadi klub paling diidolakan. “Kita pernah juara nasional,” tambah pria yang menjadi PNS di Dinas Sosial, Kabupaten Wonosobo, ini.
Edy menjelaskan, setelah menjadi klub elite, desakan dari masyarakat—khususnya para pemuda saat itu— semakin kuat agar Teater Hay lepas dari kandangnya: SMA 1 Temanggung. Keinginan tersebut akhirnya terwujud. Hal itu setelah semua anggotanya memutuskan bahwa Teater Hay adalah komunitas lintas sekolah. Maka, banyak sekolah yang kemudian bergabung dengan Teater Hay.
“Kita langsung kebanjiran anggota. Ada anggota yang benar-benar aktif, ada juga yang hanya mendaftar kemudian tidak aktif. Tapi, kami terus memacu agar kelompok kami ini semakin besar. Tentu dengan prestasi,” ucapnya, bangga.
Di tengah nama yang semakin berkibar, Teater Hay menjadi ikon kesenian di Kabupaten Temanggung. Para anggotanya bahkan membuat lagu-lagu sendiri. Tepatnya, lebih banyak lagu-lagu rock.
Uniknya, lagu-lagu ciptaan mereka lebih banyak berbahasa Jawa. “Ini ciri khas kami. Lagunya berbahasa Jawa tapi nge-rock,” terangnya.
Namun, pada dekade 1980-an, nama Teater Hay menghilang, setelah anggotanya melanjutkan studi dan tidak ada generasi penerus yang melanjutkan. Beberapa yang masih tinggal di Temanggung, sibuk dengan pekerjaannya. “Inilah masa kami harus memilih antara melanjutkan sekolah atau meneruskan karya kami. Ini sebenarnya hal yang sangat sulit,” terangnya.
Aktivis Teater Hay lainnya, Agus Prasetyo, menambahkan, setelah melakukan pertemuan terbatas dengan anggota, beberapa aktivis Teater Hay memutuskan untuk kembali bergabung. Tujuannya, menghidupkan komunitas ini.
“Kami akui, kami sangat sibuk bekerja. Satu sisi, kami punya anak cucu. Maka, (anak-cucu) itulah yang akan menghidupi Teater Hay,” terangnya.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan mengumpulkan anak-anak para aktivisnya pada kumpulan yang diselenggarakan. Dengan demikian, antara satu dengan yang lain, saling bergabung untuk memperkuat barisan Teater Hay. “Kita pernah mencoba mementaskan bareng anak-anak kami musik secara mendadak, hasilnya sudah cukup bagus,” terangnya.
Ke depan, pihaknya berkonsentrasi membina anak-anak mereka untuk menghidupi kembali Teater Hay. Tak hanya itu. Mereka juga akan ambil bagian dalam melatih serta membangun kekompakan, sebagaimana telah dilakukan pada era 1970-an.
“Dan, nantinya, mereka akan menarik anggota-anggota baru dari luar garis keluarga, sehingga semakin besar kembali,” tandas pria yang juga Kepala Bappeluh Kabupaten Temanggung tersebut. (*/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here