Anggaran Minim, Sulit Pugar Pasar

175

KENDAL—Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kendal mengaku kewalahan mengelola pasar-pasar tradisional yang ada di Kendal. Pasalnya, anggaran pengelolaan yang berasal dari APBD sangat minim. Bahkan, Bidang Pasar Disperindag Kendal hanya mendapatkan kucuran Rp 200 juta. Alokasinya bukan hanya untuk renovasi, namun meliputi anggaran pengelolaan 11 pasar besar lainnya. 
Kepala Disperindag Kendal, Sukron Samsul Hadi mengakui jika kebaradaan 11 pasar sudah sangat memprihatinkan dan butuh pemugaran. Kondisi pasar juga mulai jarang diminati, karena pasar tradisional kalah dengan pasar modern yang sudah bertebaran hingga pelosok kampung.
“Dengan adanya pasar modern berupa mini market, pasar tradisional semakin tidak diminati masyarakat. Sementara kami juga terbatas anggarannya untuk melakukan perbaikan,” ujarnya, kemarin.  
Menurutnya, dengan keterbatasan anggaran pasar tradisional sebenarnya bisa dikelola oleh pihak ketiga, sehingga bisa maksimal. “Tapi di Kendal ini juga sulit mencari investor. Apalagi melihat potensi Kendal yang sangat sulit, tidak ada investor yang mau menanamkan sahamnya di Kendal,” paparnya.
Sukron mengatakan bahwa target retribusi pasar tahun 2014 ini sebesar Rp 3,850 miliar. Sesuai dengan peraturan daerah, memang 40 persen pendapatan retribusi pasar akan dikembalikan untuk perbaikan dan perawatan pasar tradisional yang ada. Namun demikian, jumlah tersebut sangatlah kurang, sebab biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi sangatlah besar. Sedangkan dana selama ini hanya mampu memperbaiki dalam skala ringan.
Dijelaskan, dari 11 pasar tradisional yang dikelola Disperindag, menampung sebanyak 10 ribu pedagang. 11 pasar tradisional ini di bawah kendali lima Unit Pelaksana Teknis (UPT) yakni UPTD Pasar Sukorejo, Pasar Weleri, Pasar Kaliwungu, Pasar Kendal dan Pasar Boja.
“Perbaikan tidak bisa kami lakukan sekaligus. Tapi sejauh ini, sudah kami usulkan dua pasar. Yakni Pasar Sukorejo dan Pasar Pagi Kaliwungu. Yang sudah dilakukan survei dan akan direhab adalah Pasar Pagi Kaliwungu. Besar anggarannya Rp 20 miliar,” jelasnya. (bud/ida)