TEWASNYA Zhonathan Ivanqhow, 19, membuat keluarganya berduka. Apalagi putra ketiga dari empat bersaudara ini tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Pihak keluarga baru mengetahui Ivan –panggilan akrab Zhonathan Ivanqhow— tewas setelah dihubungi rekan korban, Riko Putra Aji, 19, dan Petra Hendrawan, 19, keduanya juga warga Krobokan, Semarang Barat.
Kakak pertama Ivan, yakni Zhoofi Ivanse, 27, mengaku, saat itu, pihak keluarga mendapat kabar dari Riko untuk datang ke RSUP dr Kariadi Senin (26/5) sekitar pukul 04.00. ”Saya ditelepon ibu untuk pergi mencari Ivan di Kariadi,” ujarnya kepada Radar Semarang.
Sebelumnya, sang ibu, Sugiyanti, 39, mendapatkan kabar kalau adiknya itu berada di RSUP dr Kariadi. Mendengar kabar itu, Zhoofi bergegas ke Kariadi. Tapi, sampai di sana, ia tidak menemukan adiknya. Ia lantas menghubungi rekan Ivan untuk menanyakan di mana lokasi pembacokan itu.
”Lalu saya pergi ke lokasi. Di sana, adik saya sudah dikerumuni banyak orang dan ada polisi juga. Kondisinya belumuran darah,” tuturnya
Zhoofi mengaku, sebelum kejadian tragis itu, ia tidak mengetahui ke mana adiknya pergi. Yang ia tahu, malam itu, adiknya dijemput oleh teman-temannya untuk diajak untuk jalan-jalan. Di antaranya, bernama Riko dan Petra. ”Dia (Zhonathan, Red) tidak sempat pamit mau ke mana. Tiba-tiba sudah pergi dari rumah,” ujarnya.
Zhoofi dan keluarganya mengaku terpukul dengan kepergian adiknya. Apalagi Ivan tewas dengan 19 luka bacok di sekujur tubuhnya. Ia bertambah terpukul, lantaran belakangan diketahui adiknya tewas saat akan merampas motor. ”Saat saya ke lokasi, dompetnya masih ada. Sepertinya tidak ada barang yang hilang. Malah kabarnya adik saya itu dikoroyok saat merampas motor,” katanya.
Zhoofi sendiri sudah melihat keanehan di wajah adiknya dalam beberapa minggu terakhir.
”Wajahnya terlihat pucat akhir-akhir ini. Tapi saya tidak tanya kenapa,” ujarnya.
Ia mengakui, sebelum ditemukan tewas, Ivan sempat ingin membelikannya sound system. Hal itu dikatakan saat Ivan meminjam sound system milik kakaknya tersebut pada Minggu (25/5) siang.
”Siangnya ke rumah ambil sound. Terus saya antar pulang, dan saya pasangkan ke komputernya. Setelah itu, saya lihat dia lewat depan warung saya bersama teman-temannya,” ungkapnya. Tak disangka, siang itu adalah kali terakhir ia melihat Ivan.
Menurut Zhoofi, sebelum kejadian itu, ibunya sudah melarang alumnus SMP Muhammadiyah Semarang tersebut keluar rumah. Selain itu, sang ibu juga akan membelikan Ivan burung dara yang sudah jauh-jauh hari diminta. ”Ivan memang suka burung dara, dan ibu saya sudah mau membelikannya serta bilang agar Ivan di rumah saja. Tapi, Ivan justru sudah pergi, bahkan untuk selamanya,” kenangnya tentang perkataan sang ibu kepada Ivan.
Di mata Zhoofi, adiknya itu adalah sosok yang baik. Ia suka membantu ibunya berjualan gulai di rumahnya. ”Kesehariannya ya bantu ibu jualan,” katanya. (fth/har/aro/ce1)