Berawal dari Hobi Nongkrong, Kini Jadi Rezeki

Hemas Citra Maharani, Mahasiswi Unika Soegijapranata yang Berbisnis Kafe

Hemas Citra Maharani masih berusia 19 tahun. Namun mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang ini sudah memiliki bisnis kuliner. Seperti apa?

LUTHFI ARIZKA, Tembalang

MALAM itu, sejumlah muda-mudi asyik ngobrol sambil menikmati sejumlah menu roti bakar dan french fries atau kentang goreng di atas meja. Mereka tampak santai, duduk di beberapa kursi kayu panjang dan sofa. Di atas meja tersedia mocha frape dan night sky choco cream. Beberapa di antara mereka juga tampak asyik berselancar di dunia maya lewat laptop dan notebook. Terdengar pula alunan musik yang memanjakan telinga.
Ya, itulah suasana Mazel Cafe di bilangan Jalan Banjarsari, tepatnya di Ruko Banjarsari No 58E Tembalang. Kafe seluas 84 meter persegi dengan kapasitas sekitar 70 pengunjung tersebut dikelola oleh seorang mahasiswi bersama sepupunya. Dialah Hemas Citra Maharani. Hemas –sapaan akrabnya— masih berstatus mahasiswi semester 3 Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang.
Saat ditemui Radar Semarang, Hemas menceritakan, kafenya itu mulai beroperasi sejak 1 Desember 2013 lalu. Ia punya ide membuka usaha kuliner tersebut bermula dari hobinya nongkrong di kafe-kafe layaknya anak muda zaman sekarang. Saat itulah tercetus gagasan mendirikan kafe sendiri. Ia bersama sepupunya, Imam Reza, 20, lantas berinisiatif untuk merintis usaha bersama. Melihat tingginya peluang bisnis dalam bidang kuliner, Hemas pun akhirnya memilih membuka bisnis kafe.
”Ide awal usaha ini karena aku suka nongkrong sama temen-temen. Tapi, lama-lama jadi kepikiran kenapa nggak bikin tempat nongkrong sendiri? Dulu sempat mau bikin usaha online shop, tapi setelah dihitung-hitung kok profitnya kurang. Setelah ngobrol sama mama-papa, akhirnya sepakat bikin usaha kafe,” beber cewek supel ini kepada Radar Semarang.
Modal awal mendirikan kafe itu sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut didapat dari orang tuanya, Indi Sutopo dan Pancawati Hardiningsih yang sebetulnya akan digunakan untuk keperluan pribadinya.
”Sebenernya udah disediain sama mama anggaran buat keperluan pribadiku. Tapi aku pikir, mending uangnya aku buat wirausaha yang nantinya bisa dapat keuntungan lebih. Aku juga menganggap uang itu aku pinjem dari mama, jadi makin semangat buat ngembangin bisnis ini biar bisa balikin uangnya,” jelas cewek yang tinggal di Jalan Sapen No 2B Ungaran ini.
Dipilihnya ruko di Jalan Banjarsari lantaran dekat dengan kampus Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang. Dengan menyewa sebuah ruko, ia bersama sepupunya mengonsep kafenya senyaman mungkin bagi pengunjung. Dengan penataan ruang yang minimalis dan modern. Juga beberapa hiasan pada dinding kafe, memberikan kesan lebih berkelas.
Hemas memilih Mazel Cafe sebagai nama untuk bisnisnya. ”Mazel dari bahasa Ibrani-Israel yang artinya keberuntungan. Jadi, harapannya bisnis ini bisa membawa keberuntungan,” jelas gadis kelahiran 4 Juli 1995 ini.
Hemas sendiri memiliki darah bisnis dari keluarganya. Sang kakak sudah terlebih dahulu terjun ke dunia bisnis, namun pada bidang yang berbeda. ”Kakakku berbisnis batu mineral buat menjernihkan air,” katanya.
Kafe yang dikelolanya menyediakan puluhan menu makanan dan minuman yang ditulis di papan yang dipasang di tembok di belakang meja kasir. Namun kafenya memiliki menu spesialis, yakni pancake dan spagety. Sedangkan untuk menu minumannya, utamanya berbahan cokelat, kopi dan teh.
Meski telah memiliki 8 karyawan tetap, Hemas dengan senang hati turun tangan untuk meracik minuman yang dipesan pengunjung. Hemas mengakui, saat ini sudah banyak bisnis serupa di Kota Semarang, utamanya di kawasan kampus Undip Tembalang. Karena itu, Hemas pun memiliki cara untuk menghadapi pebisnis lain dalam bidang yang sama.
”Sasaran penjualan Mazel Cafe ini para mahasiswa. Dan, biasanya mereka lebih mengutamakan tempat nongkrong yang enak, ada fasilitas wifi gratis, dan murah. Jadi, kita membuat Mazel Cafe sesuai kebutuhan mereka,” jelasnya.
Selain itu, untuk menarik pengunjung, setiap weekend, di kafenya digelar acara akustikan. Ia juga gencar mempromosikan bisnisnya lewat sosial media Twitter @MazelCafe. ”Setiap ada acara atau event baru, aku infokan di Twitter. Misalnya, pas ada Saturday Story kemarin. Kita juga sering ngadain nobar (nonton bareng),” katanya.
Hemas mengakui, mengelola bisnis tidaklah mudah. Bahkan, ia rela cuti kuliah selama setahun. Namun dengan berwirausaha, paling tidak dirinya bisa merasakan susahnya mencari uang sendiri. Padahal boleh dibilang, sebenarnya Hemas berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Ditanya suka dukanya mengelola bisnis kafe, Hemas bercerita pernah mengalami perebutan sewa tempat usaha dengan pebisnis lainnya, karena saat itu menggunakan sistem lelang. Demi menjalankan bisnis, ia juga harus merelakan waktu kuliahnya, waktu bermain bersama teman-temannya, hingga waktu bersama keluarga.
Di awal merintis usaha, ia juga sempat diragukan karena paling muda di antara owner lainnya. Namun di balik kesulitan yang dihadapi dalam berbisnis, Hemas merasa senang karena bisa bertemu dengan banyak orang, serta memiliki pengalaman baru. ”Sukanya lagi, kalau penjualan kita bisa melebihi target,” ucap pemilik moto hidup: Semua niat dan usaha yang baik akan menghasilkan karya yang jauh lebih baik ini.
Hemas mengatakan, saat memutuskan untuk berbisnis, ia meyakinkan diri sendiri untuk selalu berpikir positif, melakukan pekerjaan dengan totalitas dan hati yang tulus, serta berani untuk mengambil risiko. Kini setelah bisnisnya menunjukkan perkembangan bagus, bungsu dari dua bersaudara ini berencana membuka cabang baru di Ungaran. Ia berharap, bisnisnya itu akan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Meski sudah menekuni bisnis, baginya kuliah tetap nomor satu. Karena Hemas masih memiliki tanggung jawab atas kuliahnya, ia pun berusaha me-manage waktu sebaik mungkin. ”Kan kafe buka mulai pukul 17.00 sore. Nah, kebetulan jadwal kampus cuma dari pagi sampai sore, nggak lebih dari pukul 17.00, jadi biasanya aku selesai ngampus langsung ke sini (kafe). Kalo ada tugas kampus juga aku ngerjainnya di sini,” terangnya.
Dari bisnisnya itu, dalam sebulan Hemas mampu mendapat omzet sekitar Rp 18,5 juta. Hasilnya, digunakan untuk terus mengembangkan bisnisnya. Hemas kurang tertarik menggunakan uangnya untuk membeli sesuatu. Ia memilih menyimpannya dengan cara investasi emas. (*/aro/ce)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here