Eksistensi Bahasa Indonesia Harus Diperhatikan




245

SEKARAN – Bahasa Indonesia semakin banyak digunakan warga negara asing. Tak heran seandainya saat ini banyak warga asing yang mencoba untuk langsung belajar di Indonesia.

Dosen Tamu di St Pitersburg University Rusia U’um Qomariyah mengatakan, dewasa ini puluhan negara menawarkan pengajaran bahasa Indonesia. ”Dengan prinsip mengembangkan hubungan diplomasi antarnegara, bahasa Indonesia menjadi salah satu sarana untuk mempererat sekaligus mempertajam kualitas hubungan tersebut,” kata U’um dalam seminar nasional bahasa Indonesia bertajuk ’Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia di Kancah Internasional’, di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (26/5).
U’um mencontohkan, Thailand, Malaysia, Vietnam, India, Maroko, Tiongkok, Jepang, Australia, Polandia, Rusia, adalah beberapa negara yang warganya mempelajari bahasa Indonesia. ”Mereka datang berbondong-bondong, selain untuk mengagumi keindahan Indonesia, belajar bahasa Indonesia menjadi salah satu minat dan motivasi mereka,” kata U’um.

Dekan FBS Unnes Agus Nuryatin mengatakan, realita pendaftar Jurusan Bahasa Indonesia sekarang jauh lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya. ”Itu menandakan, minat masyarakat untuk mempelajari dan melestarikan bahasa Indonesia sangat besar,” katanya.

Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang juga hadir dalam seminar tersebut mengatakan, bahasa Indonesia, seperti semua bahasa di dunia mengalami perkembangan agar tetap bisa menjalankan fungsinya dengan baik. ”Maka, masyarakat termasuk para sastrawan wajib menaruh perhatian terhadap perkembangan bahasa Indonesia agar perkembangan itu menuju ke arah positif dan tidak sebaliknya,” kata Tohari.
Ia menyayangkan, pemerintah yang seharusnya memberi contoh baik malah sering bertindak tidak konsisten dalam berbahasa. ”Dalam keadaan bahasa Indonesia yang semakin rapuh ini para sastrawan dituntut lebih bertanggung jawab dalam berbahasa,” katanya. (mg1/ton/ce)