Wisata Bawah Laut Memprihatinkan

31

KARIMUNJAWA – Zonasi wisata bawah laut di tempat destinasi wisata Kepulauan Karimunjawa hingga kini kondisinya memprihatinkan. Diperlukan penataan ulang jika kondisi laut tersebut tetap terjaga keindahannya. Langkah ini untuk meminimalisasi dampak kerusakan terumbu karang di kawasan perairan yang selama ini dijadikan tujuan wisata bawah laut. Hal itu disampaikan Kepala Seksi Badan Tanam Nasional (BTN) Karimunjawa Iwan Setiawan melalui Pengendali Ekosistem Hutan, Yusuf Syaifuddin.
Dikatakan Yusuf, saat ini kunjungan wisata terbilang tinggi. Jika dulu hanya ada kapal motor penumpang (KMP) Muria dengan kecepatan laju Jepara-Karimunjawa selama tujuh jam, sejak 2010 ada armada transportasi laut KMP Siginjai, Kapal Motor Cepat (KMC) Bahari, dan Cantika Express. Dengan pertambahan armada tersebut, frekuensi lalu lintas laut Jepara-Karimunjawa atau sebaliknya makin meningkat, karena semakin cepat. Sehingga jumlah wisatawan meningkat.
”Jika kunjungan wisata ke Karimunjawa meningkat, praktis dampak kerusakan terumbu karang di destinasi zona wisata bawah laut akan bertambah pula. Jadi diperlukan penataan zonasi wisata,” ujar Yusuf.
Konsentrasi kunjungan wisata bawah laut ada pada Menjangan Besar, Tanjung Gelam (di Karimunjawa), Pulau Menjangan Kecil, dan Cemara Kecil. Yusuf mengatakan, masih banyak kawasan perairan Karimunjawa yang menyuguhkan wisata bawah laut. Sehingga disarankan, agar tempat-tempat tersebut juga digunakan menjadi destinasi wisata bawah laut.
Pihaknya juga mengusulkan untuk pembatasan jumlah wisatawan. ”Diharapkan dengan penataan zonasi wisata bawah laut itu dapat memecah kepadatan kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Belum lagi kerusakan yang disebabkan faktor alam. Kerusakan terumbu karang karena badai besar pada 2005 cukup parah. Sehingga dibutuhkan replantasi terumbu karang yang memakn waktu cukup lama.
Pihaknya menduga pada cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu, juga mengakibatkan kerusakan terumbu karang. Namun pihaknya mengaku belum melakukan monitoring karena keterbatasan dana. ”Resilien atau ketahanan populasi bawah laut Karimunjawa tergolong kuat, tidak seperti di Bali atau tempat lainnya,” katanya. (him/lin/smu)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here