Unggul di Rotasi Pemain

144

SOLO – Salah satu kunci kemenangan tim cewek SMA Theresiana 1 Semarang mempertahankan gelar champion Honda DBL Central Java Series adalah arena tim ini punya materi pemain yang lebih komplet. Pemain utama maupun pelapis, sama-sama mumpuni dari sisi skill.
Ini berbeda dengan SMA Regina Pacis, di mana kualitas pemain inti dan pelapis cukup timpang. Ketika pemain inti kehabisan tenaga, pemain pelapis tidak mampu menggantikan peran di lapangan.
Gelar kedua tim cewek SMA Theresiana 1 Semarang selama dua musim terakhir ini memang sudah terlihat di depan mata sejak kuarter pertama. Sofiana Widiastuti berhasil unggul tipis 10-6 dan mampu menjauh 22-12 di kuarter kedua.
Komposisi rotasi yang berbeda yang coba diterapkan pelatih Arief Djazuli membuat Theresiana semakin di atas angin. Drive cepat dengan prosentase field goal tinggi membawa mereka menjauh 27-16 di kuarter ketiga dan menutup laga dengan kemenangan 34-20.
Pelatih Theresiana Arief Djazuli mengakui, di final party Central Java Series kali ini pihaknya memang ingin anak-anak asuhnya sedikit mempercepat tempo dengan menggunakan rotasi pemain uyang berbeda. “Di North Region kemarin kita bermain sedikit lambat. Makanya di Solo kali ini kita sedikit merubah komposisi agar di kuarter pertama dan kedua tempo bisa sedikit cepat,” terang Arief Djazuli kemarin.
Selain itu, kunci sukses Theresiana petang kemarin adalah sukses tim mereka memainkan one on one marking terutama untuk mengunci pemain-pemain penting Regina Pacis seperti guard mereka Debora Septiani. “Kami melihat Debora memang begitu menonjol di tim mereka, dan one on one anak-anak berjalan dengan baik sehingga Debora tidak bisa bergerak bebas,” lanjut Arief Djazuli kemarin.
Sementara di kubu Regina Pacis, pelatih Wongso Suseno mengakui timnya tampil di bawah form terbaik mereka. Penyakit demam panggung menurutnya menjadi faktor utama timnya gagal berkembang sepanjang empat kuarter. “Sejak sebelum pertandingan anak-anak sangat nervous. Itu yang membuat permainan kami tidak bisa berkembang. Ya justru di final Jateng ini penampilan anak-anak dibawah form terbaik mereka,” terang Wongso. (bas/smu)