Reruntuhan Benda Purbakala Jadi Daya tarik

153

Secara administratif, Desa Gondosuli masuk dalam wilayah Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Desa ini tepat berada di Lereng Gunung Sumbing yang jaraknya sekitar 10-15 kilometer ditarik garis datar dari puncak Gunung Sumbing. Untuk mencapai desa ini, justru lebih dekat dari RSK Ngesti Waluyo, Parakan naik menuju arah pendakian Gunung Sumbing melalui jalur pendakian Cepit.
Memasuki gerbang desa, suasana tampak seperti desa pada umumnya. Tidak ada yang menonjol sepanjang jalan, kecuali barisan rumah yang berjajar di tepi jalan yang menanjak. Antara satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya cukup dekat dengan nuansa khas perumahan pegunungan. Bahkan, tidak ada kesan istimewa dilihat dari permukaan pada desa ini.
Namun, begitu mengikuti tanda arah panah keberadaan peninggalan purbakala, suasananya berbeda. Di belakang permukiman warga, bersemayam Prasasti Gondosuli, sebuah prasasti yang menyebut nama-nama raja Jawa pada era Mataram Hindu. Prasasti ini pula yang mengungkap tentang keberadaan kerajaan Mataram Hindu di Kabupaten Temanggung sebelum dipindahkan Empu Sendok ke Jawa Timur untuk menghindari serangan Kerajaan Sriwijaya.
Sisi lainnya, prasasti ini juga merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia. Prasasti ini menggunakan Bahasa Melayu Kuno. Pada sisi lain, sekitar prasasti terdapat bangunan candi yang kini telah runtuh. Tinggal bebatuan candi dan arca yang tergeletak begitu saja.
Watu Wayang adalah benda purbakala lain yang dimiliki oleh desa ini, Watu Wayang merupakan sebuah bongkahan batu besar di tengah sawah. Pada permukaan batu tersebut terukir tokoh-tokoh wayang. Dugaan kuat, batu ini merupakan peninggalan Mataram Hindu saat berjaya di wilayah penghasil tembakau ini.
Dua peninggalan besar tersebut adalah salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Desa Gondosuli. Sadar akan potensi tersebut warga akhirnya menginisiasi untuk menjadikan kawasan hunian mereka menjadi daerah sasaran wisata. Sistem ekowisata akhirnya diterapkan dan diresmikan oleh Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi. “Saya menjadi salah satu yang merawat warisan sejarah itu,” kata Dahro, 69, tokoh masyarakat setempat.
Dahro bertanggung jawab atas perawatan Watu Wayang setelah tingkat kunjungan tinggi, khususnya dari kalangan pelajar. Ia dengan begitu aktif menjelaskan terperinci tentang keberadaan sisa peninggalan ukiran tanpa alat pahat itu. Demikian juga terjadi di Prasasti Gondosuli.
Pada sisi yang lain, desa dengan penduduk sekitar 4.500 jiwa ini juga aktif melakukan kegiatan sosal kemasyarakatan. Gotong royong menjadi salah satu kunci utama pembangunan desa. Warga Desa Gondosuli aktif melakukan kegiatan gotong royong untuk kegiatan kebersihan dan kegiatan kerjasama antar warga. “Kami semua kompak untuk saling bergotong-royong,” kata Sudjono, warga lainnya.
Lima dusun yang berada di pemerintahan desa ini, juga aktif menggelar pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk kepentingan sosial. Jimpitan adalah salah satu sistem yang diterapkan. Tidak hanya jimpitan beras atau dalam bentuk uang tunai, desa ini juga menerapkan sistem jimpitan hasil bumi, yakni tembakau. “Jadi pada musim tembakau mereka jimpitannya pakai daun tembakau,” terangnya.
Hasil dari jimpitan tersebut, kemudian digunakan untuk membuat prasarana umum seperti perbaikan jalan, sistem irigasi, tempat ibadah dan sosial lainnya. Tidak ada tarif jimpitan khusus, jimpitan dibayarkan sesuai dengan kemampuan. “Ini efektif karena kalau menunggu bantuan membutuhkan waktu lama,” terangnya.
Kepala Desa Gondosuli Moh Arifin mengatakan, setiap kegiatan warga masyarakat senantiasa dilakukan secara bersama-sama. Tak hanya gotong royong secara fisik yang dilakukan masyarakat,  melainkan juga dalam soal lainnya.
Desa Gondosuli yang memiliki 5 dusun tersebut  setiap dusun memiliki 2-3 kesenian tradisional seperti kesenian tradisional Kuda Lumping, Wulang Sunu, Dayakan, Zan Zanain dan lain-lain. “Bidang kuliner  dari desa Gondosuli banyak dipasarkan di berbagai pasar di Kabupaten Temanggung,” katanya.
Kesadaran gotong royong yang telah terbangun sejak lama itulah yang kemudian membawa Desa Gondosuli menjadi terbaik keempat tingkat nasional sebagai desa dengan kekuatan gotong royong terkuat. “Kami akui bahwa Desa Gondosuli memang menyimpan potensi besar dalam hal gotong royong. Kami sebagai Camat merasa bersyukur,” kata Camat Bulu, Usdimanto. (zah/ton)

Tinggalkan Komentar: