Objek Wisata Masih Seadanya

151

Menjual Wisata Semarang

Berbagai upaya menjual Kota Semarang sebagai brand kota wisata, makin gencar dilakukan Pemkot. Gelaran seni dan budaya, event-event pariwisata, maupun pemecahan rekor MURI, berulang kali dilakukan. Sudahkah Pemkot berhasil menjual Semarang, sebagai kota jujukan wisata?
IRONIS. Sejumlah objek wisata— utamanya yang dikelola Pemkot— kondisinya justru memprihatinkan. Sebut saja, Taman Marga Satwa atau yang lebih dikenal dengan kebun binatang (bonbin Mangkang). Belum lagi, Taman Lele, wisata hutan Tinjomoyo, Goa Kreo, dan lain sebagainya.
Kondisi objek wisata tampak seadanya. Mulai fasilitas hingga sarana dan prasarananya. Seperti biasa, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang mengklaim, pihaknya masih berupaya mengoptimalkan tempat-tempat wisata yang ada agar dapat menarik wisatawan.
Selama ini, objek-objek wisata milik Pemkot Semarang, tak memiliki daya jual tinggi. Satu sisi, objek wisata religi dan heritage seperti Sam Poo Kong, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Gedung Lawang Sewu, Pagoda dan Vihara Watugong, serta Kota Lama, lebih diunggulkan untuk menggaet wisatawan.
Pemkot melalui Disbudpar pun mengakui kondisi objek wisata yang belum optimal, membuat tingkat kunjungan tidak begitu maksimal.
Sejumlah cara telah dilakukan untuk menggaet wisatawan agar berkunjung ke Kota Atlas. Seperti menggelar event-event menarik. Antara lain, Semarang Night Carnival (SNC), Festival Perahu Hias di Banjir Kanal Barat, Simfoni Kota Lama, dugderan, dan sejumlah event kesenian dan budaya lainnya.
Penyelenggaraan event-event itu pun tak main-main. Melibatkan tokoh-tokoh seni yang tergabung dalam Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Juga sanggar-sanggar tari.
Harapannya, kegiatan tersebut diliput oleh media, sehingga dapat disiarkan dan diketahui masyarakat luar Kota Semarang. ”Apalagi event-event yang kita gelar selama ini seperti SNC, perahu hias, simfoni Kota Lama, dan dugderan, tidak ada di tempat lain. Kita akan kembangkan event-event tersebut sehingga menjadi ciri khas Kota Semarang. Kalau ada kegiatan menarik mereka (pelancong) akan datang ke sini (Semarang),” kata Kepala Disbudpar Kota Semarang Masdiana Safitri kepada Radar Semarang, akhir pekan lalu.
Selain menggelar event dan menggaet seluruh elemen masyarakat pencinta seni dan budaya, pihaknya juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tour wisata. Harapannya, perusahaan tersebut juga mempromosikan Kota Semarang di wilayah-wilayah lain.
”Kita sudah maksimalkan koordinasi dengan elemen masyarakat, kita kembangkan destinasi yang ada seperti Goa Kreo, Banjir Kanal Barat sebagai tempat pergelaran event. Tahun 2015, kita juga sudah merencanakan alokasi anggaran untuk pengembangan dan pembenahan sejumlah destinasi wisata. Tinjomoyo, misalnya, kita akan benahi gasebo-gasebo yang sudah rusak dan bangunan kantor untuk pengelolaan wisata di tempat itu.”
Sedangkan untuk wisata Goa Kreo, Disbudpar akan melibatkan masyarakat setempat untuk pengelolaan. ”Karena sekarang ini sudah ditunjang dengan adanya Waduk Jatibarang,” tandasnya.

Kota Wisata MICE
Selain pembenahan objek wisata, Disbudpar juga akan fokus mengembangkan konsep wisata dengan menjadikan Kota Semarang sebagai kota wisata MICE atau Meeting, Incentive, Conference, and Exibition.
Konsep tersebut dinilai lebih potensial untuk menggaet wisatawan agar datang ke Kota Semarang, karena melihat banyaknya investor yang mulai mengembangkan usahanya seperti hotel, restoran, yang dilengkapi dengan convention hall atau meeting room di Kota Atlas ini.
”Sekarang ini kita sedang fokus menggarap wisata MICE, di mana para wisatawan dapat melakukan kegiatan meeting di Kota Semarang. Hal itu juga akan berdampak terhadap kunjungan objek wisata yang ada,” terang Kepala Bidang Pembinaan Industri Pariwisata, Disbudpar Kota Semarang, Giarsito Sapto Putratmo.
Menurutnya, wisata MICE lebih memiliki dampak yang luar biasa untuk perekonomian masyarakat, karena mereka akan tinggal di Semarang selama 3-4 hari di hotel yang ada di Semarang, dengan aktivitas meeting, kuliner, transportasi, dan kunjungan ke objek wisata. Hanya saja yang masih menjadi kendala wisata MICE saat ini Semarang belum adanya gedung convention yang berskala internasional yang mampu menampung peserta 10 ribu orang lebih.
”Gedung convention yang ada masih berskala menengah seperti Marina Convention Centre, Ballroom Crowne Plaza Hotel, Gumaya Hotel, Patra Jasa, MAJT, dan lainnya,” ujar Sapto.
Program lima tahun ke depan yang akan digarap pemkot adalah Semarang sebagai kota MICE. Hal ini terlihat dari banyaknya investor yang membangun hotel baru dengan fasilitas ruang meeting.
”Saat ini juga sedang dibangun Semarang Town Square (Setos) di Jalan Gajahmada yang memiliki hotel, apartemen, ruang meeting, mal, dengan konsep kuliner dan sarana rekreasi. Hal itu menjadi salah satu tantangan investor untuk menjadikan Semarang sebagai kota wisata MICE,” terangnya.
Sejumlah kegiatan berskala nasional maupun internasional juga sempat diselenggarakan di Kota Semarang, seperti konferensi ke dua Polwan se-Asia. Yang bersifat nasional adalah konferensi ASDEKSI atau Asosiasi Sekretaris DPRD Seluruh Indonesia dan berbagai konferensi summit oleh beberapa perguruan tinggi di Semarang. ”Dengan adanya event tersebut mampu menarik media untuk meliput, sehingga menjadi sarana promosi wisata sebagai upaya untuk mengundang wisatawan agar berkunjung ke Semarang,” katanya.
Sapto menambahkan, untuk menjual wisata Semarang sebagai pendukung kota MICE, Disbudpar akan terus menggelar promosi, baik melalui media cetak dan elektronik. Selain itu juga mengikuti berbagai pameran di travel mart di berbagai kota antara lain, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.
”Sejumlah event yang telah kami gelar selama ini juga menjadi bahan promosi skala nasional. Seperti SNC dan Festival Perahu Hias yang merupakan agenda tahunan,” tandasnya.
Dari sejumlah event-event yang telah digelar Pemkot selama ini, termasuk dari tempat wisata yang ada dan MICE, Sapto mengklaim jumlah pelancong meningkat sekitar 300 ribu setiap tahunnya. ”Sejak tahun 2011 hingga 2013 peningkatan pelancong rata-rata 300 ribu setiap tahunnya,” klaimnya.
Kunjungan wisatawan ke Kota Semarang hingga akhir tahun ini diprediksi mencapai 3 juta orang lebih. Jumlah tersebut jauh melebihi rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2014 sekitar 2 juta pengunjung. ”Berdasar tingkat kunjungan tahun 2013 lalu jumlah wisatawan hampir mencapai 3 juta orang,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Wachid Nurmiyanto mengatakan, objek-objek wisata yang ada di Kota Semarang belum tergarap secara maksimal. Sejumlah program yang dijalankan oleh pemkot akan menjadi percuma ketika objek-objek wisata tersebut tidak memiliki daya tarik bagi wisatawan. ”Misalnya program pemerintah yang akan mengoperasikan bus wisata. Program itu akan menjadi percuma ketika objek wisata yang dikunjungi masih buruk,” ujarnya.
Pemkot harus serius meningkatkan objek-objek wisata di Kota Semarang sehingga layak jual. Sekarang ini kalau melihat objek wisata di Kota Semarang, masih terlihat seadanya, belum serius ditangani. Sehingga ketertarikan masyarakat terhadap objek wisata di Kota Semarang belum signifikan.
”Saya berharap program-program wisata yang ditawarkan bisa mendorong pemkot meningkatkan kualitas objek wisata yang ada,” harapnya.
Yang kedua, lanjut legislator PAN ini, pemkot juga harus melakukan kajian potensi wisata yang ada di Semarang. Sebab, selama ini hanya mengusulkan anggaran tanpa mengetahui potensi yang didapat dari objek wisata tersebut. ”Jangan terus tahu-tahu kita menganggarkan tanpa ada kajian, atau paling tidak verifikasi objek-objek yang akan dianggarkan,” ucapnya. (zal/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: