Libatkan Wartawan, Ditulis Lima Tahun

Alex Harijanto, Ikon Taekwondo Indonesia Asal Semarang Luncurkan Buku

Grand Master Taekwondo Indonesia, Alex Harijanto (DAN VII Kukkiwon), meluncurkan buku berjudul ’Tak Kaya Harta, Namun Berjiwa’. Melalui buku itu, Alex ingin menularkan motivasi pada para taekwondoin muda Indonesia untuk meraih suatu prestasi.

BASKORO SEPTIADI

DITEMUI di sebuah warung kopi di Semarang, Alex Harijanto tidak tampak seperti seorang yang ditokohkan. Penampilannya sederhana, sesuai dengan kalimat pertama judul bukunya, tak kaya harta. Pria pemilik nama lengkap Mok Ghay Liong ini juga masih tampil dengan ciri khasnya, yakni rambut panjang yang diikat. Namun di kalangan para atlet taekwondo, pria kelahiran Semarang 13 Februari 1951 ini sangat disegani. Master Alex, begitu para pelatih maupun taekwondoin memanggilnya.
”Saya sebenarnya tak terlalu suka publikasi, tapi bila ada yang memublikasi tak apa-apa. Saat saya jadi pelatih pelatnas di Jakarta, semua wartawan olahraga di Jakarta mengenal baik saya. Bahkan, buku ini sumbangan tulisan teman-teman wartawan di Jakarta, berikut mencetaknya semua oleh teman-teman wartawan di Jakarta,” ujar Alex kepada Radar Semarang.
Cukup lama buku tersebut disusun, karena memang kesibukan para wartawan penyusunnya. Setelah lima tahun sejak kali pertama buku ditulis, baru awal Mei lalu buku itu selesai dan siap cetak. Bahkan salah satu penulisnya, telah berpulang sebelum buku itu dicetak. ”Buku ini terlaksana atas desakan rekan-rekan wartawan, ada lima orang. Sebetulnya ide buku ini muncul sejak 15 tahun lalu,” ungkap Alex.
Menurut Alex, melahirkan atlet berprestasi tidak cukup hanya memberikan latihan fisik dan teknik. Faktor non-teknis jadi hal yang menentukan keberhasilan atlet, misalnya motivasi, semangat juang, tidak bermanja-manja dengan fasilitas, dan yang terpenting adalah tanamkan Merah Putih di dada. ”Melalui buku ini, saya ingin taekwondoin termotivasi. Saya berharap taekwondo Indonesia terus maju di berbagai event internasional,” tandasnya.
Cukilan buku setebal 204 halaman itu berisi sepak terjang Alex di matras taekwondo Indonesia. Salah satunya dipaparkan soal perjuangan taekwondoin Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992 dengan 3 medali perak dan 1 perunggu. Pun kejuaraan Eropa Open di Belgia 1992 yang menyambar 3 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu. Saat itu, Alex adalah pelatih.
Alex memang jadi teladan bagi para master taekwondoin nasional. Sentuhannya banyak melahirkan atlet-atlet potensial berprestasi internasional seperti Rahmi Kurnia, Abdul Rojak, Anis Dewi, Jefri Triaji, Lamting, Yoseph Hungan, Susilowati dan masih banyak lainnya.
Alex sangat berharap  buku ini bisa memotivasi atlet, terutama pelatih untuk lebih meningkatkan bukan saja skill dan teknik, tapi juga penerapan psikologi kepada anak asuhnya. ”Para pelatih di Indonesia pada dasarnya sudah cukup bagus, jadi tinggal mencari pelatih yang mau on fire. Tidak hanya berpikir materi,” ujarnya.

Alex mengatakan, potensi olahraga taekwondo ini sangat luar biasa. Dojang atau tempat latihan taekwondo bertebaran di mana-mana. Anak-anak begitu bangga menjadi seorang taekwondoin. Karena itulah, dia punya keyakinan ke depan, prestasi taekwondo Indonesia akan mendunia.
”Dengan jumlah penduduk Indonesia keempat terbesar di dunia, serta melihat  banyaknya anak-anak dan remaja yang menyenangi taekwondo, saya yakin taekwondo Indonesia akan hebat. Hanya tinggal bagaimana pelatih yang memoles untuk menjadikannya seorang atlet yang potensial,” paparnya.
Master Alex memang legenda hidup dalam pertumbuhan olahraga beladiri asal Korsel itu di Indonesia. Hari-harinya hingga saat ini dihabiskan demi masa depan taekwondo Indonesia. ”Saya titipkan nasionalisme dan mental psikologi atlet harus kuat. Pembinaan tak hanya sekadar mengasah teknik dan fisik tapi juga mental dan semangat. Tanpa keduanya tak akan maksimal,” imbuhnya. (*/smu/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here