Konservasi Kota dan Kampung Lama

MELALUI seorang teman, Profesor Totok Roesmanto, baru saja kita memperoleh informasi yang cukup menggembirakan. Kota kita, Semarang, baru saja memperoleh penghargaan sebagai kota konservasi terbaik se-Indonesia. Penghargaan itu diperoleh berkat kepedulian kita pada pemeliharaan kawasan Kota Lama dan aktivitas-aktivitas kultural dan sosial di kawasan itu. Hadiahnya adalah uang tunai sebesar Rp 5 miliar, yang bolehnya dipakai untuk berbagai konservasi, reservasi atau rehabilitasi berbagai objek kegiatan terkait.
Nah, para penggiat aktivitas Kota Lama tentu berhak ”meminta” sebagian hadiah itu, karena berkat kerja mereka lah kawasan The Little Netherland menjadi kawasan yang dinamis seperti sekarang.
Ya, sampai sekarang ini jika kita membicarakan masalah konservasi (budaya) di Kota Semarang, perhatian kita selalu terfokus pada kawasan di sekitar stasiun Tawang dan Gereja Blenduk yang dibangun pertengahan abad 16 oleh Belanda. Kita seakan lupa ada wilayah ”Kota Lama” lainnya, yakni kawasan Kampung Jawa dan Pecinan, dua hunian masyarakat Semarang yang lebih “koeno” dan ”asli” daripada yang dibuat oleh orang-orang Belanda.
Keduanya kita kategorikan lebih koeno dan asli karena Kampung Jawa sekurang-kurangnya telah ada ketika para ajar (pendeta Hindu) di Pulau Tirang menerima kedatangan Made Pandan (Ki Ageng Pandanarang) di padepokan mereka pada pertengahan abad 15. Atau setidak-tidaknya dapat ditandai dari adanya pesantren tempat pendiri Kota Semarang itu mengajar mengaji para santrinya di Bergota, sebuah bukit di tengah Kota Semarang yang sekarang menjadi permukiman masyarakat dan pemakaman umum (Budiman, 1978 ; 17).
Sementara Pecinan atau kampung di mana orang-orang China atau Tionghoa bermukim dapat ditandai dari pembangunan Kelenteng Sam Po Kong di Simongan pada 1416, atau setelah mereka bermigrasi ke kawasan di pinggir kali Semarang (sekarang kawasan Jalan Beteng dan sekitarnya (Joe, 1939 ; 13).

Lebih Asli
Terlepas dari ”sentiment wilayah” tentang kawasan yang ada lebih dahulu, lebih khas alias lebih asli, lokasi ”Kampung Jawa” di Semarang memang tidak sejelas lokasi ”kampung” China atau ”kampung” Belanda. Lokasi kedua kawasan atau area sudah sangat-sangat jelas. Sebaliknya, kampung atau tempat tinggal orang-orang Jawa yang ”pribumi” Semarang ini tersebar di segala penjuru. Dan justru karena itu cukup susah untuk mengidentifikasi manakah ”kampung asli” wong Semarang ? Barangkali, upaya mencari kampung asli wong Semarang ini cukup menarik untuk dikaji atau diseminarkan!
Yang jelas, perlakuan pemerintah terhadap kota atau kampung lama berlabel Kampung Eropa, Kampung Arab, Kampung Jawa, atau Kampung China sungguh amat jauh berbeda. Entah karena apa, Kampung Jawa yang penghuninya tentu mayoritas penduduk Semarang, lha kok malah tidak ada perwakilannya dalam ”Festival Pandanaran” yang diselenggarakan secara rutin oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sejak 3-4 tahun yang lalu. Padahal kampung-kampung para migrant itu tampil dengan segala atribut dan gayanya masing-masing. Bagaimana ini Mas Hendi (Wali Kota Hendrar Prihadi, Red)?
Kembali ke penghargaan konservasi Kota Lama; pertanyaannya, mau diapakan uang yang Rp 5 miliar itu ya? Kalau boleh usul atau berandai-andai, sebelum hadiah itu ”dibelanjakan” sebaiknya ada proses ”urun rembuk” alias hearing antara para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat dalam upaya revitalisasi Kota Lama. Ini merupakan upaya menampung aspirasi, gagasan, ide-ide yang berasal dari publik, atau semacam proses ”adv-verb” (advokasi dan mediasi, Honeyman, 2011) atau mekanisme teori sistem (proses input-proses output, Amirin, 1979) antara masyarakat dan pengambil kebijakan.
Andaikata proses pelibatan masyarakat (LSM dan aktivis lainnya) dimungkinkan, barangkali hadiah yang tidak seberapa besarnya itu akan lebih maksimal manfaatnya. Andaikata penafsiran ”Kota Lama” itu tidak hanya berhenti di sekitar kawasan The Little Netherland, barangkali kawasan Pecinan, Petolongan dan ”Kampung Jawa” bisa ikut kebagian kebahagiaan. Tapi, ini hanya ”andaikata” lho! Eh, siapa tahu Mas Hendi dan Mas Totok sempat membaca rubrik Gambang Sem(b)arang Jawa Pos Radar Semarang ini dan menindaklanjutinya! (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here